Skip to content

Syekh Mushthafa Abdulkhaliq, Kepala Prodi Usul Fikih Al-Azhar yang Pertama

Syekh Mushthafa Abdulkhaliq, dosen istikamah Al-Azhar dan Kepala Prodi Usul Fikih pertama, pernah membimbing Al-Buthi hingga Abuya Profesor Aceh.

FOTO Syekh Mushthafa Abdulkhaliq
FOTO Syekh Mushthafa Abdulkhaliq

Beliau bernama lengkap Syekh Mushthafa Muhammad Hasan Abdulkhaliq Al-Qahiri Asy-Syafi’i Al-Azhari. Kata Al-Qahiri merupakan nisbah pada Kota Kairo, tempat kelahiran dan wafat beliau. Kata Asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau menganut mazhab Syafi’i dalam bidang fikih. Sementara kata Al-Azhari merujuk pada tempat beliau belajar dan berkhidmah.

Lahir dan Keluarga

Syekh Mushthafa Abdulkhaliq lahir di Distrik Sayyidah Nafisah, Kairo, pada 1905 M. Ayah beliau merupakan salah satu ulama Al-Azhar yang mengabdikan dirinya menjadi imam dan pelayan Masjid Sayyidah Nafisah. Pengabdian ini beliau warisi turun temurun dari ayah, kakek dan leluhurnya sejak era Mamalik. Jika dirunut, nasabnya sebagai berikut: Mushthafa bin Muhammad bin Abdulkhaliq bin Hamid bin Muhammad Hammudah bin Syu’aibuddin bin Yusuf bin Abdullathif bin Ali Ash-Shalahi. Nama terakhir telah menjabat sebagai mudir makam Sayyidah Nafisah dan mengurusi wakafnya sebelum 923 H.

Dari pihak ayah, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq merupakan keturunan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Sementara dari pihak ibu, beliau merupakan keturunan dari Rasulullah SAW. Beliau memiliki dua adik yang di kemudian hari menjadi ulama. Adik pertama adalah Syekh Abdulghani Abdulkhaliq yang mengikuti jejak sang kakak menekuni bidang usul fikih. Sementara adik kedua adalah Ahmad yang menggantikan sang ayah menjadi imam masjid Sayyidah Nafisah.

Belajar dan Guru

Sejak kecil, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq dididik dalam naungan keluarga ulama. Di bawah pengawasan ayahnya, beliau belajar membaca dan menghafalkan Al-Quran disertai hukum tajwidnya. Pada umur 15 tahun tepatnya sekitar 1920 M, beliau memasuki Ma’had Al-Azhar untuk menempuh jenjang Awwali dan berhasil lulus pada 1924 M. Pada tahun itu juga, beliau melanjutkan pendidikannya dengan memasuki jenjang Tsanawi yang ditempuh dalam waktu empat tahun. Sehingga di tahun 1928 M, beliau berhasil lulus dari jenjang ini dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang selanjutnya.

Saat itu sistem Kulliyyah di Al-Azhar belum ada. Namun, jenjang yang setara dengan Kulliyyah sudah ada, saat itu dengan nama Al-Qism Al-‘Ali. Beliau memasuki jenjang ini dengan masa belajar empat tahun. Sehingga pada 1932 M, beliau berhasil lulus dari jenjang ini. Di antara teman seangkatan beliau yang kemudian menekuni bidang yang sama adalah Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith dan Syekh Jad Ar-Rabb Ramadhan Jumu’ah. Adapun angkatan sebelumnya yang kemudian menjadi tokoh usul fikih juga adalah Syekh Thaha Mahmud Ad-Dinari.

Pada 1932 M, beliau berhasil lulus dari jenjang ‘Ali. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke jenjang paling tinggi di Al-Azhar saat itu, yaitu Qism At-Thakhashshush (konsentrasi). Saat itu Al-Azhar memiliki dua jenis Takhashshush, yaitu Takhashshush Maddah (konsentrasi akademisi) dan Takhashshush Mihnah (konsentrasi profesi). Syekh Mushthafa Abdulkhaliq bersama kedua temannya di atas memasuki takhashshush maddah. Sedangkan bidang yang beliau tekuni adalah fikih Syafi’i dan usul fikih. Pada 1935 M, beliau berhasil lulus dari jenjang ini dengan meraih Syahadah ‘Alimiyyah dalam bidang konsentrasi fikih Syafi’i dan usul fikih.

Selama 15 tahun belajar di Al-Azhar dalam empat jenjang yang telah disebutkan, tentu Syekh Mushthafa Abdulkhaliq memiliki banyak guru. Di antara guru beliau adalah Syekhul-Azhar Mahmud Syaltut dan Syekhul-Azhar Muhammad Ma'mun Asy-Syinnawi. Syekh Muhammad Abdul Fattah Al-‘Anani dan 13 pengajar yang diangkat menjadi dosen saat Kulliyyah Syari’ah Islamiyyah pertama kali dibuka merupakan para pengajar di jenjang ‘Ali dan Takhashshush. Berarti mereka semua merupakan guru Syekh Mushthafa Abdulkhaliq dan teman-teman seangkatannya.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang menyoroti isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Karir dan Jabatan

Pasca lulus dari jenjang takhashshush, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq tidak langsung meniti karir sebagai dosen. Tidak ada sumber yang menyebutkan secara jelas pekerjaan apa yang beliau tekuni. Namun jika mengaca kepada kedua teman seangkatannya, kemungkinan besar beliau menekuni karir yang sama, yaitu sebagai pengajar di Ma’had.

Setelah lebih dari sepuluh tahun mengajar di Ma’had, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq diangkat menjadi dosen di Fakultas Syari’ah Islamiyyah pada 18 Oktober 1948 M bersama dengan dua teman seangkatannya, yaitu Syekh Badr Al-Mutawalli Abdulbasith dan Syekh Jad Ar-Rabb Ramadhan. Pada 24 Maret 1951 M, beliau resmi dilantik sebagai professor madya (Al-Ustadz Al-Musa’id). Padahal dua teman seangkatannya di atas yang diangkat sebagai dosen pada tahun yang sama baru dilantik sebagai professor madya pada 20 Februari 1956 M.

Pada 16 November 1954 M, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq menduduki posisi dosen tingkat tiga (Darajah Tsalitsah). Pada 28 Februari 1961 M, beliau menduduki posisi dosen tingkat dua (Darajah Tsaniyyah). Saat Al-Azhar membagi fakultas Syari’ah menjadi beberapa prodi, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq diangkat menjadi kepala prodi usul fikih. Namun tahun pengangkatannya belum diketahui secara pasti. Yang jelas pada tahun 1969 M, beliau telah menduduki jabatan ini. Hal ini tertulis jelas dalam disertasi Syekh Muhibbuddin Wali asal Aceh.

Murid dan Karya

Syekh Mushthafa Abdulkhaliq merupakan tipe ulama yang istikamah berkhidmah di Al-Azhar. Beliau tidak pernah mengajar di universitas lain sepanjang hidupnya. Selama beberapa dekade menjadi pengajar dan dosen di ma’had dan universitas, tentu beliau memiliki banyak murid. Di antara murid yang terkenal adalah Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, Syekh Muhibbuddin Wali (Aceh), Syekh Muhammad Hasan Hitu, Syekh Thaha Jabir Al-‘Alwani dan Syekh Mushthafa Sa’id Al-Khin. Hal ini bisa dilihat dalam sejumlah disertasi yang diajukan oleh para murid tersebut.

Pada 1965 M, beliau menjadi dosen pembimbing Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam menulis disertasi dengan judul Dhawabith Al-Mashlahah. Pada 1969 M, beliau menjadi dosen pembimbing putra terbaik Nusantara dalam menulis disertasi dengan judul Al-Ijtihad fi Al-Fiqh Al-Islami. Putra Nusantara yang dimaksud adalah Syekh Muhibbuddin Wali yang populer di tanah Aceh dengan nama Abuya Profesor.

Pada 1969 M, beliau juga menjadi pembimbing Syekh Muhammad Sa’id Al-Khin dalam menulis disertasi dengan judul Atsar Al-Qawa’id Al-Ushuliyyah fi Ikhtilaf Al-Fuqaha. Hal ini menunjukkan bahwa di tahun ini beliau masih hidup. Sebab ada sumber menyebutkan bahwa beliau wafat pada 1968 M. Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari dalam Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif juga menyebutkan biografi beliau di deretan ulama yang wafat pada tahun 1968 M. Meskipun Syekh Usamah juga menyebutkan bahwa di tahun ini beliau masih hidup. Hal ini disebabkan sangat sedikitnya sumber yang menjelaskan biografi beliau.

Sebagai lulusan takhashshush Al-Azhar tentu beliau memiliki karya ilmiyyah. Setidaknya karya ilmiyyah yang diajukan untuk meraih Syahadah Al-‘Alimiyyah. Sebab untuk mendapatkan syahadah ini, seorang thalib harus mengajukan karya ilmiyyah terlebih dahulu. Seperti disebutkan oleh teman seangkatannya, Syekh Badr Al-Mutawalli, dalam kitab Risalah fi Al-Waqf. Namun informasi tentang karya beliau belum ditemukan hingga hari ini.

Akhir Hayat

Setelah berkhidmah untuk Al-Azhar dan agama, Syekh Mushthafa Abdulkhaliq dipanggil oleh pemiliknya. Setelah disalatkan, jenazah beliau dikebumikan di pemakaman keluarga di kawasan Sayyidah Nafisah, Kairo. Hari, tanggal, dan tahun wafat beliau belum diketahui secara pasti. Kemungkinan besar beliau wafat antara tahun 1970 M dan 1971 M.

Perkiraan di atas didasarkan pada jabatan kepala prodi usul fikih yang telah dipegang oleh adiknya, Syekh Abdulghani Abdulkhaliq pada 1972 M. Hal ini juga dikuatkan dengan fakta bahwa pada 1939 M, beliau masih menjadi dosen pembimbing Syekh Muhibbuddin Wali, sebagaimana telah disebutkan di atas. Semoga rahmat dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau. Semoga manfaat ilmu beliau menular kepada kita semua. Amiin..


💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest