Skip to content

Syekh Ahmad Syakir, Jejak Intelektual Sang Muhaddits dan Ahli Tahkik

Biografi Syekh Ahmad Syakir, ulama Al-Azhar dan muhaddits Mesir, dikenal lewat karya tahkik dan dedikasinya dalam menjaga warisan keilmuan Islam.

FOTO Syekh Ahmad Syakir (w. 1958).
FOTO Syekh Ahmad Syakir (w. 1958).

Syekh Ahmad Syakir adalah salah satu muhaddits paling berpengaruh di Mesir abad ke-20. Berasal dari keluarga ulama terkemuka Al-Azhar, ia dikenal luas atas dedikasinya dalam ilmu hadits dan karya-karya tahkik yang hingga kini menjadi rujukan penting. Meski lebih dari tiga dekade berkiprah sebagai kadi, kontribusinya dalam dunia ilmiah tak pernah surut, menjadikannya sosok sentral dalam pelestarian turats Islam.

Nama dan Keluarga

Beliau bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Syakir Al-Hanafi. Kata Al-Hanafi di belakang namanya menunjukkan bahwa beliau mengikuti Mazhab Hanafi dalam fikih. Beliau lahir pada hari jumat 29 Jumada Al-Akhir 1309 H (19 Januari 1892 M) di Darb Al-Unsiyyah, Distrik Ad-Darb Al-Ahmar, Kairo. Beliau berasal dari keluarga ulama dan bernasab mulia. Leluhur ayahnya dikenal dengan nama keluarga Abu ‘Alya' yang nasabnya bersambung dengan Sayyidina Al-Husein.

Sang Ayah, Syekh Muhammad Syakir, merupakan anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama angkatan pertama dan pernah menjabat sebagai Wakilul-Azhar. Sementara ibunya, Asma', merupakan putri Syekh Harun Abdurraziq yang juga merupakan anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama angkatan pertama. Lembaga ini merupakan lembaga Al-Azhar yang memiliki fokus pada pemecahan masalah dalam berbagai bidang. Beranggotakan 30 ulama senior dengan 11 anggota dari Mazhab Hanafi, 9 anggota dari Mazhab Maliki, 9 anggota dari Mazhab Syafi’i dan 1 anggota dari Mazhab Hanbali.

Syekh Muhammad Syakir merupakan anggota yang berlatar belakang Mazhab Hanafi. Sementara Syekh Harun Abdurraziq berlatar belakang Mazhab Maliki. Di kemudian hari, Syekh Ahmad Syakir menikah dengan keponakan (putri saudari) Syekh Abdulmu’thi Asy-Syirsyimi. Beliau juga merupakan anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama angkatan pertama yang berlatar belakang Mazhab Syafi’i.

Masa Belajar

Semenjak umur 8 tahun, Syekh Ahmad Syakir telah merantau ke Sudan mengikuti ayahnya yang ditugaskan sebagai Kadi Agung (Qadhi Al-Qudhah) di sana. Sang ayah memasukkan sang anak ke sekolah Ghurdun di Sudan. Setelah purna tugas, pada 1904 M, sang ayah ditugaskan untuk menjadi Kepala Ma’had Al-Iskandariyyah yang waktu itu baru saja diresmikan. Sehingga Ahmad Syakir-pun masuk ke Ma’had Al-Iskandariyyah dan menjadi untuk yang pertama kalinya ia mengenyam pendidikan di Ma’had Al-Azhar yang baru diresmikan ini.

Selang 5 tahun, yaitu pada 1909 M, sang ayah diangkat menjadi Wakilul-Azhar. Sehingga bersama sang ayah, Ahmad Syakir berpindah ke Kairo dan melanjutkan pendidikannya di Masjid Al-Azhar. Pada 1917 M, ia berhasil lulus dari Al-Azhar dan mendapatkan Syahadah Al-‘Alimiyyah.

Guru

Syekh Ahmad Syakir belajar di Al-Azhar kurang lebih 13 tahun lamanya, terhitung dari 1904-1917 M. Tentu saja beliau memiliki banyak guru yang membimbingnya dalam mengarungi samudera keilmuan selama itu. Apalagi beliau belajar di dua Ma’had Al-Azhar sekaligus, yakni Al-Iskandariyyah dan Kairo. Namun demikian, data ulama Al-Azhar yang tercatat sebagai gurunya sangatlah minim. Sejauh ini yang tertulis di buku-buku biografi hanyalah dua orang, yaitu Syekh Mahmud Abu Daqiqah dan sang ayah, Syekh Muhammad Syakir.

Syekh Ahmad Syakir belajar Usul Fikih kepada Syekh Mahmud Abu Daqiqah. Kepada sang ayah, beliau belajar banyak kitab dari berbagai disiplin ilmu, seperti Tafsir Al-Baghawi (Tafsir), Shahih Muslim, Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah, Sunan At-Tirmidzi, sebagian Shahih Al-Bukhari (Hadits), Jam’ Al-Jawami’, Nihayah As-Sul karya Al-Isnawi (Usul Fikih), Syarh Al-Khabishi ‘ala At-Tahdzib, Syarh Al-Quthb ‘ala Asy-Syamsiyyah (Manthiq), Ar-Risalah Al-Bayaniyyah (Balaghah) dan Al-Hidayah (Fikih).

Guru lain dari Syekh Ahmad Syakir yang bukan berasal dari Al-Azhar adalah Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, Syekh Muhammad Habibullah Asy-Syinqithi, Syekh Abdullah bin Idris As-Sanusi, Syekh Ahmad bin Asy-Syams Asy-Syinqithi, Syekh Syakir Al-‘Iraqi dan Syekh Thahir Al-Jazairi.

Kiprah dan Jabatan

Pasca meraih gelar Al-‘Alimiyyah, Syekh Ahmad Syakir diangkat menjadi pengajar di Madrasah Utsman Basya Mahir, Kairo. Madrasah ini merupakan madrasah modern pertama di bawah pengawasan Al-Azhar yang diresmikan oleh Syekhul-Azhar Abdurrahman Asy-Syirbini pada 1902 M. Di sini, Syekh Ahmad Syakir hanya mengajar selama 4 bulan. Sebab, beliau beralih profesi menjadi kadi. Sejak menjabat sebagai kadi, Syekh Ahmad Syakir fokus menekuni jabatan ini. Beliau sering berpindah tugas dari satu mahkamah ke mahkamah yang lain. Jabatan ini beliau emban selama lebih dari 30 tahun sampai masa pensiun pada Januari 1952 M.

Pasca pensiun, Syekh Ahmad Syakir menekuni pekerjaan sebagai pengacara. Sebelumnya, Pada 1950 M, beliau juga sempat menjalani karir sebagai redaktur di Majalah Al-Hadyu An-Nabawi. Namun hanya dijalani selama 7 bulan saja.

Murid

Meski hanya sebentar menjadi pengajar, Syekh Ahmad Syakir meninggalkan sejumlah murid yang kelak berperan penting, terutama dalam bidang edisi kritik teks (tahkik). Nama yang paling menonjol adalah Syekh Abdussalam Harun—sepupunya sekaligus muridnya—yang dikenal luas sebagai maestro tahkik naskah Arab. Kiprah sang guru dikenangnya dalam pengantar buku Kalimah Al-Haq, kumpulan tulisan Syekh Ahmad Syakir yang pernah dimuat di Majalah Al-Hadyu An-Nabawi.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Karya

Di sela-sela kesibukannya sebagai kadi, Syekh Ahmad Syakir ternyata juga menekuni tahkik dan tulis-menulis, terlebih di bidang fikih dan hadits. Hal ini wajar karena tugas beliau sebagai kadi syar’i dan juga sangat menggandrungi bidang hadits. Meski beliau cukup lama menekuni dunia kehakiman, namun tetap saja gelar yang melekat adalah Muhaddits Ad-Diyar Al-Mishriyyah. Berikut adalah sejumlah karya tulis yang beliau tinggalkan sebagai warisan keilmuan:

1. Nizham Ath-Thalaq fi Al-Islam

2. Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, berjudul ‘Umdah At-Tafsir

3. Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits li Ibni Katsir

4. Tahkik Kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i

5. Tahkik Kitab Jima’ Al-‘Ilmi karya Imam Asy-Syafi’i

6. Tahkik kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam dan Al-Muhalla karya Ibnu Hazm

7. Kalimah Al-Haq, sebuah kumpulan tulisan yang dimuat di Majalah Al-Hadyu An-Nabawi

8. Tashih Al-Kutub wa Shun’u Al-Faharis Al-Mu’jamah wa Kaifiah Dhabth Al-Kitab

9. Sejumlah tahkik kitab lain di bidang hadits, fikih, sastra, dan bahasa.

Akhir Hayat

Pasca pensiun, Syekh Ahmad Syakir menekuni karir sebagai pengacara. Bahkan beliau sampai membuka kantor khusus di jalan Qashr An-Nil, Kairo sebelum kemudian memindahkannya ke Mansyiah Al-Bakri, Kairo yang merupakan tempat kediamannya. Beliau juga sempat beberapa kali berkunjung ke Arab Saudi dan Syam. Kunjungan terakhir ke Arab Saudi dilakukan pada tahun 1956 M.

Pasca itu, Syekh Ahmad Syakir didera sebuah penyakit yang mengharuskannya untuk menjalani operasi. Akhirnya beliau memutuskan untuk menjalani operasi. Proses operasi berjalan dengan lancar. Namun tak berselang lama, beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu pukul 07.30 pagi 26 Zulkaidah 1377 H ( 14 Juni 1958 M). Semoga rahmat dan berkah Allah SWT senantiasa tercurah kepadanya. Amin.


💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest