Skip to content

Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi, Pembawa Nafas Baru Kajian Maqashid Syariah

Biografi Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi, ulama Al-Azhar abad ke-20 yang menghadirkan pembaruan usul fikih dan menghidupkan kajian maqashid syariah.

FOTO Potret Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi. (Facebook)
FOTO Potret Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi. (Facebook)

Beliau bernama lengkap Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi Al-Hanafi Al-Azhari. Kata Al-Hanafi merujuk pada mazhab fikih yang beliau ikuti. Sedangkan kata Al-Azhari nisbah kepada tempat beliau belajar dan mengajar.

Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi lahir pada 14 Syakban 1328 H (20 Agustus 1910 M) di kampung Mit ‘Afif, Markaz Al-Bajur, Provinsi Al-Munufiyyah. Kampung Mit ‘Afif sendiri merupakan pemukiman tua yang sudah ada sejak zaman Dinasti Ayyubiyyah, bahkan mungkin sejak sebelumnya. Nama kampung ini telah disebut oleh Ibnu Mamati dan Ibnu Ji’an dengan nama Munyah ‘Afif. Nama Munyah ‘Afif berubah menjadi Mit ‘Afif setidaknya sejak 1228 H (1813 M).

Masa Belajar dan Guru

Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi mengawali belajarnya dengan memasuki Kuttab di kampung setempat. Beliau belajar dasar-dasar baca tulis dan menghafal Al-Quran beserta tajwidnya di kuttab tersebut. Selain itu, para pelajar kuttab juga mempelajari dasar-dasar ilmu hitung dan matematika. Beliau berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qurannya pada 1923 M.

Pada tahun itu juga, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi merantau ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Beliau memasuki jenjang Awwali Ma’had Al-Azhar, Kairo, pada tahun ajaran 1340/ 1341 H (1923/ 1924 M). Pada saat itu yang menjadi Syekh (kepala) jenjang Awwali adalah Syekh Mahmud Ismail Ad-Dinari.

Masa belajar di jenjang Awwali ditempuh dalam waktu empat tahun. Sehingga pada ada 1927 M, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi berhasil lulus dari jenjang tersebut. Kemudian beliau melanjutkan ke jenjang Ats-Tsanawi pada tahun itu juga.

Jenjang Tsanawi ditempuh dalam waktu empat tahun sesuai qanun yang berlaku sebelumnya. Pada 1930 M ada perubahan qanun, di mana masa belajar di jenjang Tsanawi menjadi lima tahun. Sepertinya qanun itu langsung diberlakukan kepada angkatan Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi. Sebab beliau memasuki jenjang Kulliyyah pada 1933 M. Setidaknya beliau menyelesaikan jenjang Tsanawi pada 1932 M.

Pada 1933 M, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi melanjutkan studinya di jenjang perguruan tinggi dengan memasuki Kulliyyah Syari’ah Islamiyyah yang saat itu baru dibuka. Semula jenjang ini bernama ‘Ali dengan tanpa ada spesialisasi mata pelajaran. Setelah berubah menjadi Kulliyyah, mata pelajaran di jenjang ini lebih fokus pada salah satu dari tiga jurusan, yaitu Ushuluddin, Syari’ah, dan Bahasa Arab.

Masa belajar di jenjang ini ditempuh dalam waktu empat tahun, sama seperti jenjang ‘Ali sebelumnya. Sehingga Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi berhasil lulus pada 1356 H (1937 M). Di antara teman seangkatan beliau di jenjang ini adalah Syekh Muhammad Hasan Fayid. Nama yang disebut terakhir di kemudian hari menjabat sebagai rektor pertama Al-Azhar lulusan Fakultas Syariah.

Kemudian Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi memasuki jenjang takhashshush. Saat itu jenjang takhashshush dibagi menjadi dua jenis, yaitu takhashshush maddah (konsentrasi akademisi) dan takhashshush mihnah (konsentrasi profesi). Beliau mengambil takhashshush maddah bidang fikih dan usul fikih.

Al-Azhar

Sepilihan tulisan yang mengisahkan sejarah Al-Azhar dapat teman-teman temukan

di sini

Masa belajar di jenjang takhashshush maddah ditempuh dalam waktu minimal enam tahun dan maksimal delapan tahun. Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi berhasil lulus dari jenjang pendidikan tertinggi di Al-Azhar ini pada 20 Rabiul Awwal 1364 H (4 Maret 1945 M) dengan risalah berjudul Ta’lil Al-Ahkam.

Ada kisah menarik yang melatarbelakangi lahirnya disertasi tersebut. Pada 1 Ramadan 1361 H (12 September 1942 M), Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi merasa bimbang dan hampir putus asa dalam menentukan tema yang akan dibahas sebagai disertasinya. Akhirnya beliau memasrahkan semuanya kepada Allah SWT.

Di tengah-tengah kalut dan penuh pasrah ini dan di bulan yang masih sama, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi bermimpi seolah beliau memasuki perpustakaan fakultas. Di dalamnya terdapat banyak masyayikh dan para mahasiswa. Tiba-tiba petugas perpustakaan, yang kala itu dijabat oleh seorang syekh yang berpenampilan tenang, bergegas mendatangi beliau dan menyodorkan dua kitab, yang satu sudah terbit dan satunya lagi masih berupa manuskrip.  Petugas ini berkata: “Ambillah kedua kitab ini sebagai bahan disertasimu”. pintanya. “Aku belum memiliki judul untuk disertasi”, jawab beliau. Petugas itupun menimpalinya seraya berkata: “Disertasimu tentang Ta’lil Al-Ahkam”.

Setelah bangun, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi pun merasakan kebingungan, ini benar-benar isyarat atau hanya bunga tidur. Namun dengan cepat beliau menampik kemungkinan kedua. Sebab, sampai detik itu beliau belum memiliki pilihan sama sekali. Akhirnya, Ta’lil Al-Ahkam yang disebut oleh petugas perpustakaan dalam mimpi tersebut dijadikan sebagai judul disertasi. Judul lengkapnya adalah Ta’lil Al-Ahkam, ‘Ardh wa Tahlil li Thariqah At-Ta’lil wa Tathawwuratiha fi ‘Ushur Al-Ijtihad wa At-Taqlid.

Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi belajar di Al-Azhar kurang lebih 22 tahun. Tentu saja beliau berguru kepada banyak ulama di setiap jenjang yang ditempuhnya. Namun, guru yang paling berkesan bagi pribadi beliau adalah Syekh Isa Mannun, seorang ulama pakar usul fikih yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin kemudian juga menjadi Dekan Fakultas Syariah.

Karir dan Jabatan

Usai lulus, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi mengawali karirnya sebagai pengajar di Ma’had Al-Azhar Az-Zaqaziq. Di sini beliau mengajar materi fikih dan usul fikih. Pada 1366 H (1947 M) beliau diangkat menjadi dosen di Kulliyyah Syari’ah Islamiyyah Al-Azhar.

Kemudian pada 1373 H (1953 M) Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi diangkat sebagai dosen Fakultas Hukum, Universitas Kairo. Kemudian beliau dipromosikan sebagai professor madya, lalu sebagai professor Syari’ah Islamiyyah di Universitas Al-Iskandariyyah sampai usia pensiun pada 1390 H (1970 M).

Pada 1392 H (1972 M), Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi mulai berkarir di luar negeri. Beliau berangkat ke Saudi Arabia karena diangkat menjadi professor di institut kehakiman Islam di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Arab Saudi. Pada 1393 H (1973 M), beliau berpindah ke Lebanon. Di sana beliau diangkat menjadi profesor Syari’ah Islamiyyah di Kulliyyah Hukum (fakultas hukum) Universitas Beirut Al-Arabiyyah sampai 1400 H (1980 M).

Pada 1400 H (1980 M) Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi pulang ke Kairo, Mesir. Beliau kemudian diangkat sebagai Profesor Syari’ah Islamiyyah di Fakultas Hukum, Universitas Kairo. Sebelumnya, pada 1390 H (1970 M) beliau diangkat sebagai anggota Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah Al-Azhar. Keanggotaan ini beliau sandang hingga akhir hayat.

Murid dan Karya

Selama lebih dari setengah abad mengajar, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi tentu memiliki banyak murid, baik di Ma’had maupun di Perguruan tinggi. Di antara murid yang dekat dengan beliau adalah Syekh Muhammad Salim Al-‘Awwa, salah seorang anggota Majma Al-Lughah Al-‘Arabiyyah. Murid lain beliau adalah Konselor Jamal Syitta. Menurut penuturan Syekh Usamah, murid terakhir ini masih sangat lancar soal hitung-hitungan ilmu waris. Hal ini, kata beliau, didapatkannya saat belajar kepada Syekh Syalabi sewaktu kuliah.

Karya tulis Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi benar-benar membawa nafas baru dalam bidang fikih dan usul fikih. Terlebih adalah disertasinya yang telah disebutkan di atas. Kitab ini menurut salah satu muridnya, Syekh Muhammad Salim Al-‘Awwa, merupakan kitab yang dari judulnya saja belum pernah ada sebelumnya. Isinya sarat dengan pembaruan dan membawa nafas baru dalam kajian ilmu maqashid.

Selain kitab tersebut, Syekh Muhammad Mushthafa Syalabi memiliki banyak karya lain, baik yang sudah terbit maupun yang masih berupa manuskrip. Di antara kitab yang sudah terbit adalah Al-Madkhal fi Al-Fiqh Al-Islami Ta’rifuhu Tarikhuhu Madzahibuhu, Al-Istihsan fi Al-Fiqh Al-Islami wa ‘Alaqatihi bi At-Tasyri’, Ahkam Al-Mawarits baina Al-Fiqh wa Al-Qanun, Al-Fiqh Al-Islami baina Al-Mitsaliyyah wa Al-Waqi’iyyah, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, Ahkam Al-Usrah fi Al-Islam Dirasah Muqaranah baina Fiqh Al-Madzahib As-Sunniyyah wa Madzhab Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah, Ahkam Al-Washaya wa Al-Auqaf dan Tathbiq Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah baina Al-Muayyidin wa Al-Mu’aridhin.

Akhir Hayat

Syekh Muhammad Musthafa Syalabi senantiasa istikamah berkhidmah untuk ilmu, meski sudah memasuki usia pensiun. Bahkan di waktu senjanya, beliau masih sangat aktif mengikuti kegiatan Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah Al-Azhar. Bahkan, beliau juga meluangkan waktunya di luar kuliah untuk para murid-muridnya. Mereka berdiskusi di kediaman beliau.

Hal ini terus berjalan istikamah hingga Kamis 18 Rabiul Akhir 1418 H (21 Agustus 1997 M). Pada hari itu Syekh Muhammad Musthafa Syalabi menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah disalatkan, jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di kampung beliau, Mit ‘Afif. Beliau mewasiatkan sepertiga hartanya untuk penghafal Al-Quran dan anak yatim. Semoga rahmat dan berkah Allah SWT senantiasa mengalir kepadanya. Manfaat dan berkah ilmunya senantiasa menular kepada kita semua. Amiin..


💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest