Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi berkata bahwa masyarakat desanya, Daqadus, sangat senang dengan tilawah Syekh Ali Huzain. Bahkan Syekh Asy-Sya’rawi juga menyatakan bahwa ayahnya sendiri itu termasuk penggemar berat Syekh Ali Huzain, ia rela pergi ke luar desa hanya untuk menghadiri majelis tilawah Syekh Ali Huzain. Siapakah qari' legendaris ini? Berikut biografi singkatnya.
Latar Belakang
Namanya adalah Ali Huzain bin Muhammad ‘Athiyyah. Ia dilahirkan pada Maret 1902 M di Desa Mansyiyyah Ash-Shadr, Distrik Hada'iq Al-Qubbah, Kairo Utara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang petani desa. Walau begitu, justru itu yang menjadi pemacu bagi Ali untuk giat belajar dan menghafal Al-Quran demi mengangkat nama besar keluarganya.
Layaknya tradisi di Mesir, Ali Huzain kecil dititipkan ke kuttab desanya, Mansyiyyah Ash-Shadr. Di sanalah ia menghafal Al-Quran dan belajar dasar-dasar tajwid hingga khatam Al-Quran di usia 8 tahun. Setelah lulus dari kuttab, Ali Huzain dimasukkan ke Ma’had Al-Azhar. Di sana ia dikenal karena bacaan Al-Qurannya yang tartil. Bakatnya ini menuntunnya untuk menghafal qira'at serta memperdalam ilmu tajwid dan tilawah. Ali Huzain pun berguru kepada Syekh Muhammad Makki Nashr Al-Jirisi, ulama Al-Azhar ahli qira'at sekaligus penulis kitab Nihayah Al-Qaul Al-Mufid fi ‘Ilm At-Tajwid, kitab yang digunakan juga sebagai bahan ajar di sebagian pesantren di Indonesia. Selain belajar kepada gurunya, Ali Huzain juga kerap diundang ke berbagai acara di desanya, bahkan beberapa kali sampai ke luar Provinsi Kairo.
Siaran Radio Pionir di Mesir
Saat itu, Mesir belum memiliki siaran radio nasional. Yang ada hanyalah sejumlah stasiun radio pionir milik perseorangan, dimiliki secara personal oleh raja dan para bangsawan Mesir. Di antaranya ialah Radio Fuad, Radio Faruq, Radio Faridah, dan Radio Fauziyyah. Stasiun-stasiun inilah yang pertama kali mengudara di Mesir dan menjadi cikal bakal penyiaran di negeri tersebut.
Stasiun radio milik Raja Fuad kala itu dikepalai oleh Farid Bik Rifa’i dan bertempat di Hada'iq Al-Qubbah, daerah yang juga merupakan kampung halaman sang qari'. Farid Bik merupakan teman dekat Syekh Ali Huzain. Mengetahui temannya pandai membaca Al-Quran, Farid Bik pun meminta Syekh Ali Huzain yang saat itu berusia 24 tahun untuk mengisi siaran pembukaan radio kepunyaan raja tersebut. Dengan demikian, Syekh Ali Huzain tercatat dalam sejarah sebagai qari' pertama yang disiarkan melalui radio pionir di Mesir pada kali pertama mengudara, tepatnya pada tahun 1926, delapan tahun sebelum siaran radio nasional resmi dimulai pada tahun 1934.
Siaran Radio Britania
Sekitar pertengahan tahun 1940-an, Stasiun Radio Britania yang berlokasi di Garden City, Kairo, meminta Syekh Ali Huzain untuk direkam tilawahnya. Hasil perekaman tersebut terdiri dari 12 rekaman dalam gaya murattal, dan sampai sekarang masih bisa diakses melalui platform digital YouTube meski terbilang langka. Berikut di antara rekamannya:
Syekh Ali Huzain saat itu mendapat upah sebesar 100 pound Mesir dari rekamannya. Jumlah yang sangat besar pada tahun 1940-an di Mesir—bahkan dengan nominal tersebut seseorang bisa membeli gedung apartemen empat lantai. Namun alih-alih membeli apartemen, Syekh Ali Huzain justru lebih suka membeli pakaian yang bagus. Hal ini dilakukannya untuk meninggikan muruah Al-Quran di hadapan masyarakat.
Hanya Sekali Safari ke Luar Mesir
Selama hidupnya, Syekh Ali Huzain hanya pernah bersafari sekali ke luar Mesir, meskipun ia sebenarnya mendapat banyak undangan dari berbagai negara. Safari satu-satunya itu adalah ketika ia menemani Syekh Abdul’azhim Zahir dan Syekh Abu Al-‘Ainain Syu’aisya’ menghadiri undangan siaran Asy-Syarq Al-Adna (Timur Dekat) di Palestina pada tahun 1940. Di sana, ketiga qari' besar ini bertilawah setiap hari secara bergantian di Masjid Al-Aqsha. Namun karena tidak kuat berpisah lama dari Mesir, Syekh Ali Huzain hanya bertilawah selama kurang lebih dua bulan.
Al-Quran
Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniMengabdi di Kampung Halaman
Setelah pulang dari Palestina, pada mulanya Syekh Ali Huzain ditunjuk menjadi qari' di Masjid ‘Azban, Ghaith Al-‘Iddah, Distrik Al-Muski, menggantikan Syekh Muhammad Salamah yang dipindahkan ke Masjid Sayidah Fathimah An-Nabawiyyah. Kemudian, setahun berikutnya, ia dipindahkan ke Masjid Muhammad Faraj, Hada'iq Al-Qubbah. Masjid ini cukup dikenal di penjuru Kairo karena pada peresmiannya Raja Faruq datang langsung dan disambut dengan tilawah Al-Quran dari Syekh Ali Huzain. Selama 24 tahun, sang qari' mengabdi di kampung halamannya dari tahun 1948 hingga 1972.
Sisi Unik Sang Qari'
Sosok Humoris dan Senang Senda Gurau
H. Mushthafa Ali Huzain pernah menceritakan bagaimana ayahnya suka bersenda gurau, khususnya saat bersama Qari' Syekh Mushthafa Ismail. Pada satu kesempatan, keduanya diundang ke acara peringatan kematian (takziah) di Thantha. Syekh Mushthafa Ismail tiba lebih dahulu, sementara Syekh Ali Huzain datang belakangan. Ketika Syekh Ali tiba, Syekh Mushthafa segera berdiri memberi hormat dan mempersilakan duduk, mengingat Syekh Ali lebih tua tiga tahun darinya.
Sebelum memulai tilawah, keduanya sempat berbincang di atas panggung. Tiba-tiba terdengar suara kerbau menguak dengan keras. Syekh Ali Huzain diam sejenak lalu berseloroh, "Ada apa ya, Syekh Mushthafa? Mereka mengundang orang ketiga atau bagaimana?!" Seketika Syekh Mushthafa tertawa terpingkal-pingkal karena humor sahabatnya itu.




Menolak Suguhan Makan Usai Acara
Syekh Ali Huzain dikenal keras menolak suguhan makan seusai acara. Menurut sang putra, tradisi suguhan makan untuk para qari' mulai berkurang karena pengaruh ayahnya. Hal ini ia lakukan semata-mata untuk meninggikan muruah ahli Al-Quran, agar masyarakat tidak menyepelekan martabat Al-Quran dengan menganggapnya sebatas suguhan makanan atau beberapa pound Mesir saja.
※ Belajar Sikap Muruah dari Imam Al-Mawardi
Menghembuskan Nafas Terakhir
Di masa tuanya, Syekh Ali Huzain menderita penyakit gagal ginjal yang kemudian berkembang menjadi uremia. Tepat pada Senin, 2 Agustus 1971 M (11 Jumadilakhir 1391 H), sang qari' yang dikenal humoris, berpikiran terbuka, dan bersahaja ini menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya dimakamkan di Qarafah Al-Ghafir, Kairo.
