Salah satu tokoh masyhur Al-Azhar yang pernah saya tulis adalah Syekh Ibrahim Khalifah (1940-2013). Sosok alim Al-Azhar yang hingga kini masih disematkan sebagai Syaikhul-Mufassirin (Pemuka Mufasir) Al-Azhar. Ia adalah tokoh besar Al-Azhar yang mengakui seorang dengan ilmunya. Pun demikian, ia tidak pernah berdiri (hormat) menyambut kedatangan tokoh kecuali kepada satu orang, yaitu kepada Syekh Abdulghafur Mushthafa. Hal ini sebagai mana saya dengar sendiri dari murid dua tokoh tersebut, Syekh Prof. Dr. Muhammad Hasan Sibatan (sekarang menjabat Ketua Prodi Tafsir).
"Syekh Prof. Dr. Ibrahim Khalifah. itu tidak akan berdiri kecuali jika yang datang adalah Syekh Abdulghafur Mushthafa." Ucapnya dalam salah satu muhadarah tamhidi 2 pascasarjana tafsir Al-Azhar.
Ya. Dialah Syekh Abdulghafur Mushthafa yang bernama lengkap Abdulghafur bin Mahmud bin Mushthafa bin Ibrahim bin Ja’far. Ini adalah silsilah nasab paling benar dari banyak sumber yang banyak menulis tanpa menyertai "Ibrahim". Nasab ini ia tulis sendiri pada bukunya (manuskrip) yang berjudul Al-Ja’far Al-Mu’in fi Ahwal Al-Waritsin. Di buku tersebut, ia juga menulis Abu Al-Futuh sebagai nama kunyahnya.
Ja’far di belakang namanya menjadi sebuah nama marga. Makanya di beberapa tulisan, namanya ditulis dengan semisal "Abdulghafur Mushthafa Alu Ja’far". Ja’far menempati sebuah desa kecil bernama Mit Al-‘Aththar, Markaz Banha, Provinsi Al-Qalyubiyyah, Mesir. Anak-cucunya juga berkembang di sini, hingga lahirlah sosok yang di kemudian hari mengangkat harkat keluarga ini pada tanggal 10 Rabiulakhir 1353 H (13 Februari 1935), yaitu Syekh Abdulghafur Mushthafa.
Masa Pertumbuhan
Abdulghafur Mushthafa melalui masa kecilnya dengan bimbingan langsung sang ayah, Syekh Mahmud Mushthafa Ja’far, seorang guru Al-Quran yang disegani di daerahnya. Ia belajar di kuttab (TPA) sang ayah bersama anak-anak daerah sekitar Mit Al-‘Aththar. Mengenai sang ayah, ia pernah berkata, "Semoga Allah merahmati ayah. Ia adalah pemuka guru tajwid di daerah itu. Bahkan aku dapat mengatakan bahwa semua lulusan Al-Azhar di daerah itu adalah murid dari ayahku."
Sejak kecil, ia telah ditempa dengan disiplin yang khas di kalangan ulama: bangun sebelum fajar, belajar dengan dawam, dan menjadikan Al-Quran sebagai teman hidup. Ia juga menghafalkan Al-Quran dengan bimbingan ayahnya.
Masa Belajar
Pada tahun 1948, Abdulghafur Mushthafa muda menempuh pendidikan Al-Ibtida'i di Ma’had Al-Qiraat Syubra, sebuah lembaga di bawah naungan Al-Azhar yang mengkhususkan diri dalam pengajaran ilmu-ilmu qiraat. Di sinilah ia mulai menekuni lebih dalam ragam bacaan Al-Quran, sanad-sanadnya, serta argumentasi ulama terkait huruf-huruf sab’ah. Ia berhasil menyelesaikan program tersebut dengan memperoleh ijazah qiraat Hafsh ‘an ‘Ashim pada tahun 1952 M.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Al-I’dadi di Ma’had Al-Azhar Kairo hingga tamat pada tahun 1956 M, lalu melanjutkan ke jenjang At-Tsanawi di ma’had yang sama hingga lulus pada tahun 1961 M, ketika qanun jenjang belajar dialihkan menjadi 5 tahun setelah sebelumnya 4 tahun.
Setelah merampungkan pendidikan dasar dan menengah, Abdulghafur Mushthafa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perkuliahan. Di sini, ia masuk ke Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar jurusan tafsir dan hadits (jurusannya belum dipisah antara tafsir dan hadits). Setelah 4 tahun, ia akhirnya lulus pada tahun 1965 dengan nilai Jayyid Jiddan.
Cita-citanya tak berhenti sampai di sana. Ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 prodi Tafsir. Kala itu terdapat dua pilihan: diploma atau magister. Ia pun memilih diploma yang ditempuh selama 2 tahun. Di sini, ia berhasil tamat dengan nilai jayyid pada tahun 1967 M, berbarengan dengan sejumlah teman angkatannya seperti Syekh Abdulbasith Bulbul, Syekh Fadhl Hasan ‘Abbas, Syekh Muhammad Ahmad Al-Qasim, dan Syekh Abdulwahhab Abdulwahhab Fayed.
Terakhir, ia melanjutkan pendidikan S3-nya dalam bidang yang sama di universitas yang sama. Judul disertasi yang ia ajukan adalah Al-Qiraat Dirasat fiha wa Tahqiqat. Selama masa menulis, ia mendapatkan dosen pembimbing istimewa, yaitu Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi.
Setelah rampung, disertasi ini kemudian disidang pada tahun 1977 M oleh Syekh Musa Syahin Lasyin (dekan Fakultas Usuludin) dan Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi (kelak jadi Imam Akbar Al-Azhar). Usai disidang, ia mendapatkan nilai Martabah Asy-Syaraf Al-Ula plus arahan agar disertasinya dicetak dengan pendanaan kuliah untuk disebarkan ke sejumlah kampus di Mesir.
Masa Mengajar
Syekh Abdulghafur Mushthafa memulai jenjang karirnya sebagai Imam dan Khatib di Kementerian Wakaf Mesir pada tahun 1965 M, yaitu tahun di mana ia telah menyelesaikan S1-nya. Lalu pada tahun 1969 M, ia menjadi asisten dosen di Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar. Dari asisten, ia kemudian naik menjadi dosen, dosen madya, hingga profesor (guru besar) Tafsir pada tahun 1991 M.
Di sela-sela menjadi pengajar di Al-Azhar, ia sering kali dipanggil ke berbagai negara sebagai dosen terbang. Pada tahun 1980, ia menjadi dosen terbang di Universitas Umm Durman Sudan. Selama 4 tahun berikutnya, yakni tahun 1981-1985 kembali terbang ke Universitas Islam Islamabad Pakistan dengan dana dari Universitas Ummul Qura Saudi. Karena permintaan Universitas Islamabad, ia kembali terbang ke sana selama 3 tahun, dari tahun 1989-1992. Kali ini dengan pendanaan dari pemerintah Mesir.
Dari sana, ia tidak langsung kembali ke Mesir. Ia kembali diminta oleh Kampus Islam Perempuan (Kulliyyah Al-Banat Al-Islamiyyah) Fakultas Humaniora di Riyadh, Arab Saudi pada tahun 1992 selama dua tahun, hingga akhirnya dapat pulang ke Mesir tercinta pada tahun 1994.
Hanya berselang 6 tahun di Al-Azhar, ia kembali diminta sebagai dosen terbang oleh Universitas Islamabad Pakistan untuk ketiga kalinya selama setahun. Selama itu semua, ia tidak pernah menolak menjadi dosen terbang di manapun, kecuali pada tahun 2002, saat diminta mengajar di Universitas Al-Quds Palestina. Hal ini karena ia mendengar bahwa pembiayaannya berasal dari Israel.
Guru dan Murid
Selama masa belajar, ia berguru kepada ayahnya, Syekh Mahmud Mushthafa, sosok awal yang menjadi motivasinya untuk selalu membersamai Al-Quran. Lalu Syekh Abdul‘azhim Al-Ghabasyi, Syekh Muhammad Abu Ar-Rus, Syekh Abdulwahhab Ghuzlan, Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi, dan Syekh Muhammad As-Samahi.
Adapun muridnya adalah para pembesar tafsir Al-Azhar hari ini, seperti Syekh Muhammad Hasan Sibatan, Syekh Abdulfattah Al-‘Iwari, Syekh Muhammad Salim Abu ‘Ashi, Syekh Abdullah Asy-Syamandi, Syekh Salim As-Sukkari, Syekh Muhammad Abdurrahman, dan Syekh As-Sayyid Ismail.
Karya Tulis
Selain mengajar, Syekh Abdulghafur tak lupa menuliskan karya untuk generasi selanjutnya, khususnya karya tulis dalam bidang tafsir dan ilmu Al-Quran, seperti:
- Al-Quran wa Al-Qiraat wa Al-Ahruf As-Sab’ah. Ini adalah risalah doktoral yang awalnya berjudul Al-Qiraat Dirasat fiha wa Tahqiqat, lalu pembahasan didalamnya ditambah hingga menjadi dua jilid.
- At-Tafsir wa Al-Mufassirun fi Tsaubihi Al-Jadid. Sebuah ensiklopedia yang menghimpun sejumlah bukunya, lalu dijadikan satu jilid besar, yaitu: Buhuts fi Ulum Al-Quran, Ad-Dakhil wa Al-Ashil fi Tafsir Al-Quran wa Ta'wilihi Riwayah wa Dirayah, Manahij Al-Mufassirin, Ta'ammulat fi Madaris Tafsiriyyah Mutanawwi’ah, dll.
- Al-Madkhal ila Fan Al-Ada' Al-Qur'ani
- Fatawa fi ‘Ulum Al-Quran Al-Karim
- Al-Fatawa Al-Ja’fariyyah fi Masa'il Syar’iyyah wa Qur'aniyyah
- Mawadhi’ Al-Ittifaq baina Al-Adyan Al-Ilahiyyah fi Dhau'i Al-Quran Al-Karim
- I’jaz Al-Qur'an fi Fikr An-Nursi
- Al-Mausu’ah Al-Qur'aniyyah Al-Mutakhashshishah. Ia turut berkontribusi dalam ensiklopedia yang diterbitkan oleh Kementerian Wakaf Mesir ini.
※ Problematika Majas dalam Al-Quran
Akhir Hayat
Perjalanan hidup selama 69 tahun bukanlah jalan yang pendek, apalagi jika di jalan tersebut dalam rangka meramaikan turats Islam dan membangun generasi Qurani. Syekh Abdulghafur Mushthafa menghembuskan nafas terakhirnya pada pagi 3 Syakban 1425 H (18 September 2004), saat ia baru saja mengenakan jubah akademiknya untuk menjadi penguji ujian murid-murid pascasarjana. Namun, Allah memilih saat itu sebagai pertemuan terakhirnya dengan dunia. Semoga apa-apa yang telah ia berikan dapat bermanfaat bagi generasi hari ini hingga seterusnya. Amin.
Syekh Ahmad Mamduh, senior di Darul Ifta Mesir dalam salah satu tulisannya pernah berkata, "Dari semua guru, ada satu tokoh yang aku benar-benar menyesal belum sempat berguru kepadanya, yaitu Syekh Abdulghafur Mushthafa."
