Skip to content

Mata Rantai Istimewa, Sanad Jalur Syekhul-Azhar

Sanad jalur Syekhul-Azhar, mata rantai ilmu yang istimewa. Menjaga autentisitas ajaran Islam dan tradisi keilmuan dari generasi ke generasi.

FOTO Syekh Usamah Al-Azhari (kiri) dan gurunya Syekh Ali Jumu’ah. (Wikimedia/Abdullahmkh)
FOTO Syekh Usamah Al-Azhari (kiri) dan gurunya Syekh Ali Jumu’ah. (Wikimedia/Abdullahmkh)

Perhatian umat Islam terhadap sanad periwayatan merupakan keistimewaan tersendiri. Dari perhatian ini di kemudian hari lahirlah ilmu mushthalah al-hadits dan ilmu qira’at. Kedua ilmu ini merupakan kebanggaan umat Islam, karena ilmu ini belum pernah dilahirkan sebelumnya.

Kedua ilmu ini mempunyai tujuan untuk memastikan keautentikan teks Al-Quran dan hadits, di mana keduanya adalah sumber utama ajaran Islam. Sehingga kedua sumber ini bisa dipahami dan digali makna dan hukumnya dengan tenang setelah diperiksa dan diteliti keorisinalannya melalui kedua ilmu di atas. Sedangkan ilmu yang digunakan untuk memahaminya adalah sekumpulan ilmu bahasa Arab. Sementara untuk menggali hukumnya diperlukan ilmu usul fikih.

Sanad dalam ilmu musthalah al-hadits adalah mata rantai periwayatan berupa para perawi yang mengantarkan kepada teks (matan). Pada masa periwayatan, perhatian para ulama terhadap sanad sangatlah serius. Sampai pada fenomena setiap kali ada yang menyampaikan teks agama (Al-Quran dan hadits), terutama hadits, ia akan ditanya dari mana ia mendapatkan teks tersebut. Sehingga muncul pernyataan “Isnad (menyebutkan sanad) adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada isnad maka siapapun yang berkehendak akan mengatakan sesuai kehendaknya”. Hal ini bukanlah sikap berlebihan, melainkan sebagai upaya untuk menjaga orisinalitas teks agama. Sehingga pada gilirannya, setiap sanad (mata rantai/perawi) memiliki data diri yang menentukan apakah riwayatnya bisa diterima atau tidak.

Setelah masa periwayatan, fungsi sanad sedikit bergeser dari yang semula sebagai alat untuk menguji keontetikan Al-Quran dan hadits menjadi alat untuk melacak perjalanan karya ulama dalam berbagai disiplin ilmu. Sehingga karya berupa tafsir Al-Quran, himpunan hadits, syarah hadits, tauhid, fikih, usul fikih, nahwu, sharaf, dan ilmu keislaman yang lain bisa tersambung hingga penulisnya. Pada gilirannya, generasi yang jauh dari masa penulisan bisa memastikan bahwa tokoh ulama atau karya ilmiyah yang didengar namanya atau dibaca benar-benar tokoh atau objek yang historis, bukan fiktif. Sebab ada sanad yang mengantarkan sampai kepadanya.

Selain sanad periwayatan, dalam tradisi Islam juga dikenal adanya istilah sanad dirayah (pembelajaran/pemahaman) dan sanad tazkiyyah (penyucian jiwa/pengamalan). Sehingga cara memahami teks agama merupakan sesuatu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain sampai pada Rasulullah SAW sebagai penjelas pertama. Demikian juga dalam masalah pengamalan teks agama sebagai jalan untuk menyucikan jiwa. Semuanya orisinal, diwariskan dari generasi ke generasi yang lain sampai kepada Rasulullah SAW sebagai pengamal terlengkap. Pemahaman dan pengamalan tersebut tentu membutuhkan kreativitas dan beberapa modifikasi menyesuaikan zamannya tanpa mengurangi atau menambahi esensi. Modifikasi ini hanya bisa dilakukan oleh para mujaddid (pembaharu).

Dalam meriwayatkan Al-Quran, hadits maupun kitab karya ulama, para ulama memiliki inovasi dalam mengelompokkan sanad. Ada sanad yang dikelompokkan berdasarkan daerah, nama, mazhab atau spesialisasi tertentu, seperti misalkan mata rantai perawinya berasal dari Mesir kesemuanya atau sebagian besarnya; atau dari kalangan mazhab Syafi’i; atau dari tokoh bernama Muhammad; atau dari para pakar nahwu dst. Ada juga pengelompokkannya berdasarkan cara periwayatan, waktu, dan tempatnya seperti misalkan perawinya meriwayatkan dengan cara bersalaman atau di hari tertentu atau di tepat tertentu. Dalam mushthalah al-hadits, hadits yang diriwayatkan berdasarkan pengelompokkan sanad seperti di atas sering disebut dengan hadits musalsal.

Sebagai kebutuhan tersier yang menunjang kesempurnaan seorang ulama, biasanya para ulama berlomba-lomba untuk mendapatkan sanad istimewa seperti di atas. Bahkan tidak jarang di antara mereka yang berinisiatif untuk melahirkan pengelompokan baru yang belum pernah dimunculkan sebelumnya. Di antaranya adalah riwayat hadits atau kitab hadits yang para perawinya adalah para ulama yang pernah memegang jabatan Syekhul-Azhar.

Dalam kitab Asanid Al-Mishriyyin dan Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif, Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari menyebutkan beberapa sanad berupa Syekhul-Azhar dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah sanad kitab Shahih Al-Bukhari. Dalam biografi Syekh Abdulhalim Mahmud, Syekh Usamah Al-Azhari menyebutkan sanad Shahih Al-Bukhari yang diperoleh dari Syekh Farid bin ‘Ali Al-Baji At-Tunisi Al-Maliki melalui Syekhul-Azhar Abdulhalim Mahmud sebagai berikut:

Syekh Farid At-Tunisi membaca sebagian kitab Shahih Al-Bukhari kepada Syekh Dr. Muhammad Ali Kiwah dan mendapatkan ijazah keseluruhannya darinya. Syekh Muhammad Ali Kiwah meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Dr. Abdulhalim Mahmud. Syekhul-Azhar Abdulhalim Mahmud meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Mahmud Syaltut. Syekhul-Azhar Mahmud Syaltut meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Mushthafa Abdurraziq. Syekhul-Azhar Mushtafa Abdurraziq meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Muhammad Mushthafa Al-Maraghi. Syekhul-Azhar Al-Maraghi meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Syamsuddin Muhammad Al-Anbabi. Syekhul-Azhar Syamsuddin Muhammad Al-Anbabi meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri. Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Hasan bin Darwisy Al-Quwaisini. Syekhul-Azhar Hasan Al-Quwaisini meriwayatkannya dari Syekh Dawud bin Muhammad Al-Qal’i. Syekh Dawud bin Muhammad Al-Qal’i meriwayatkannya dari Syekhul-Azhar Muhammad bin Abdillah Al-Kharasyi. Dari Syekhul-Azhar Al-Kharasyi dilanjutkan ke Syekh Syamsuddin Al-Babili terus ke atas sampai kepada penulisnya, yaitu Imam Al-Bukhari.

Kemudian Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari memberi catatan bahwa sanad ini merupakan sanad langka dan istimewa lantaran melalui mata rantai istimewa yaitu para Syekhul-Azhar. Sebab dari Syekh Muhammad Ali Kiwah sampai kepada Syekh Syamsuddin Al-Babili melewati 9 tokoh ulama yang 8 di antaranya adalah Syekhul-Azhar. Sungguh ini adalah sanad agung yang layak dilabeli sebagai Musalsal bi Syuyukh Al-Azhar.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Selain sanad di atas Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari juga memiliki beberapa jalur periwayatan lain melalui sanad Musalsal bi Syuyukh Al-Azhar. Di antaranya adalah riwayat beliau dari Syekh Ali Jumu’ah, Syekh Abdullah At-Talidi, Syekh Ibrahim bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari, dan Syekh Abdurrahman bin Syekh Muhammad ‘Abdulhayyi Al-Kattani. Setelah melewati tiga tokoh pada jalur pertama dan dua tokoh pada jalur kedua, ketiga dan keempat, akan sampai pada Syekhul-Azhar Muhammad Abu Al-Fadhl Al-Jizawi. Uraian lengkapnya sebagai berikut:

Jalur pertama, Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari meriwayatkan dari Syekh Ali Jumu’ah; dari Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani; dari Syekh Abu Al-Ma’ali Hasan bin Ali Al-Hasani As-Samhudi.

Jalur kedua dan ketiga, Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari meriwayatkan dari Syekh Abdullah At-Talidi dan Syekh Ibrahim bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari. Keduanya meriwayatkan dari Syekh Abdullah bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari.

Jalur keempat, Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari meriwayatkan dari Syekh Abdurrahman bin Syekh Muhammad Abdulhayyi Al-Kattani dari ayahnya, Syekh Muhammad Abdulhayyi bin Muhammad Abdulkabir Al-Kattani.

Baik Syekh As-Samhudi, Al-Ghumari dan Al-Kattani, ketiganya meriwayatkan dari Syekhul-Azhar Muhammad Abu Al-Fadhl Al-Jizawi. Syekhul-Azhar Al-Jizawi meriwayatkan dari Syekhul-Azhar Syamsuddin Muhammad Al-Anbabi. Syekhul-Azhar Al-Anbabi meriwayatkan dari Syekhul-Azhar Mushthafa Al-‘Arusi. Syekhul-Azhar Al-‘Arusi meriwayatkan dari ayahnya, yaitu Syekhul-Azhar Muhammad bin Ahmad Al-‘Arusi dan Syekhul-Azhar Hasan Al-Quwaisini. Syekhul-Azhar Muhammad bin Ahmad Al-‘Arusi meriwayatkan dari ayahnya, yaitu Syekhul-Azhar Ahmad Al-‘Arusi dan Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi. Syekhul-Azhar Ahmad Al-‘Arusi meriwayatkan dari Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni dan Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi. Syekh Abdulllah Asy-Syubrawi meriwayatkan dari Syekhul-Azhar Muhammad bin Abdullah Al-Kharasyi. Kemudian Syekhul-Azhar Muhammad bin Abdullah Al-Kharasyi meriwayatkan dari ayahnya terus menerus sampai pada penulisnya, yaitu Imam Al-Bukhari.

Sanad ini amat sangat istimewa karena melalui sepuluh Syekhul-Azhar secara terus menerus tanpa putus. Sanad ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya. Sampai-sampai Syekh Usamah Al-Azhari menulis khusus tentang sanad Musalsal bi Syuyukh Al-Azhar. Kitab tersebut kemudian diberi nama An-Najm Al-Azhar Al-Munif fi As-Sanad Al-Musalsal bi Syuyukh Al-Azhar Asy-Syarif.

Melahirkan himpunan sanad istimewa bukanlah sesuatu yang sudah tertutup. Inovasi dan keluasan seorang ulama akan sanad dan riwayat bisa melahirkan banyak himpunan sanad berupa musalsal dalam kelompok tertentu. Imam Jalaluddin As-Suyuthi pernah menghimpun sanad melalui jalur para pakar nahwu yang sebelumnya belum pernah dilahirkan. Begitu juga Syekh Ahmad bin Muhammad As-Su’udi Al-Hanafi, beliau melahirkan himpunan sanad melalui jalur para kadi (qudhah). Kemudian himpunan ini diberi judul Ithaf Ar-Ruwah bi Musalsal Al-Qudhah. Sedangkan Syekh Usamah Al-Azhari, sebagaimana keterangan di atas, telah melahirkan himpunan sanad Musalsal bi Syuyukh Al-Azhar.

Mengoleksi dan mengkaji sanad, baik dalam periwayatan hadits, kitab karya ulama maupun yang lainnya memiliki faedah yang begitu besar. Pada awalnya berfungsi untuk memastikan keotentikan teks agama. Kemudian kajian ini bisa memberikan informasi peta persebaran teks agama, cara penafsiran, hasil tafsiran, dan penerapannya sehingga bisa sampai kepada kita. Ibarat kita minum air di gelas, kita akan tahu dari mana air yang kita minum berasal dan berapa sumur serta sungai yang telah dilalui. Semoga kita mendapat berkah dari para ulama yang menjadi jalur (sanad) sampainya agama kepada kita. Amiin…


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin

Latest