Siapa tak kenal Syekh Shalih Al-Ja'fari? Ini tentu pertanyaan retoris bagi mereka yang belajar di Al-Azhar Kairo Mesir. Beliau adalah guru dari para guru, karena banyak ulama Al-Azhar pada generasi sekarang ini pernah berguru kepada beliau.
Dalam intermeso pengajian, Syekh Fathi Hijazi menceritakan bagaimana sebenarnya sosok guru beliau itu.
Teks Terjemahan Subtitle Syekh Fathi Hijazi
Syekh Shalih Al-Ja'fari, semoga Allah memberinya rahmat yang luas dan meridainya dan membuatnya rida. Ia berkata, "Pertama kali saya melihat Nabi SAW dalam mimpi, saat saya berumur 9 tahun"
Artinya, beliau adalah kekasih Allah sebelum menjadi orang alim. Saya mengatakannya ketika saya mengenal beliau. Dan saat memperingati beliau setelah meninggal, saya katakan, "Saya tahu bahwa beliau adalah orang alim".
Lalu, saya melihat beliau memiliki sifat kewalian dan hubungan dengan Allah. Lalu, ketika saya berbaur dengan beliau, saya mengetahui bahwa beliau dipilih oleh Allah sebagai kekasih sebelum beliau menjadi orang alim. Beliau adalah kekasih Allah, pada awalnya, dan orang alim, pada akhirnya. Sehingga ilmunya bergerak dalam ruang kewalian dan hubungannya dengan Allah
Karenanya, Syekh Shalih Al-Ja'fari adalah salah satu tanda dari tanda-tanda Allah. Beliau memiliki kasidah Burdah yang dinamakan: Al-Burdah Al-Hasaniyah Al-Husainiyah fi Madhi Ali Khairil Bariyah SAW. Dan beliau mengarangnya dengan runtutan yang sama. Hanya saja beliau berkata pada permulaannya: "Apakah karena ingat Ahlulbait dan tanah haram, air mata mengalir di atas pipi seperti hujan gerimis"
Ini adalah permulaan dari kasidah Syekh Shalih Al-Ja'fari, semoga Allah merahmatinya dan meridainya serta membuatnya rida. Beliau adalah orang yang cinta pada Rasulullah SAW. Karenanya, ketika beliau menyebutkan hadis, beliau menyebutkan syekh-syekh yang menjelaskan hadis tersebut dan menyebutkan tempat-tempat di mana syekh-syekh tersebut menjelaskan hadis.
Dan terkadang beliau, saat mengajar di sini, di Masjid Al-Azhar, tempat beliau ada di sana, setelah pelataran yang luas, beliau duduk di depan, seraya wajahnya menghadap kiblat dan orang-orang ada di sekelilingnya. Beliau menunjuk dan mengatakan, "Di samping tiang ini Syekh Fulan menjelaskan hadis dan mengatakan begini. Dan di samping tiang ini Syekh Fulan menjelaskan hadis"
Maksudnya, beliau, subhanallah, adalah petunjuk. Seakan-akan menyaksikan keadaan para pendahulu.
Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras: M. Ali Arinal Haq