Dalam tradisi Islam, wirid atau dzikir sering dipahami sebagai rangkaian doa dan bacaan tertentu. Namun bagi penuntut ilmu, ada bentuk wirid yang lebih hakiki: belajar itu sendiri.
Syekh Ali Jumu'ah menjelaskan bahwa bagi seorang penuntut ilmu, wirid terpenting adalah menekuni pelajaran dengan sungguh-sungguh. Jika seseorang berada di Al-Azhar dan mempelajari nahwu, sharf, balaghah, atau disiplin ilmu lainnya, maka keberhasilan dalam belajar itulah wirid yang paling utama.
Hal ini ditegaskan melalui kisah Nabi SAW. Suatu ketika beliau memasuki masjid dan menjumpai dua halakah: satu kelompok berdzikir kepada Allah, dan kelompok lain mempelajari ilmu. Nabi SAW bersabda, “Mereka berada dalam kebaikan dan mereka juga dalam kebaikan. Aku diutus tiada lain untuk menjadi pengajar.” Nabi kemudian bergabung dengan halakah keilmuan, menunjukkan bahwa menuntut ilmu sejatinya merupakan ibadah yang sangat mulia.
Bagi penuntut ilmu yang tulus, belajar adalah bentuk penghambaan, cara mendekatkan diri kepada Allah, dan sarana keberkahan yang mengalir melalui sanad keilmuan. Dengan tekad dan ketekunan, setiap jam belajar menjadi wirid yang menghidupkan jiwa dan menuntun pada manfaat dunia dan akhirat.
