Syekh Ahmad Ath-Thayyib menyeru kepada para muslim yang hidup di negara-negara Barat agar tidak membawa serta isu-isu perbedaan dari negara asal mereka.
Perbedaan aliran, kelompok, dan pandangan yang di sebagian negara berujung pada permusuhan, bahkan pertumpahan darah, tidak sepatutnya dibawa ke tanah yang jauh dari itu semua.
Sebaliknya, seorang muslim hendaknya hadir dengan membawa nama Islam dalam makna yang luas, murni, dan sejatinya.
Islam yang diterima semua pihak adalah Islam sebagaimana disabdakan Nabi SAW: seseorang datang dan berkata, “Saya akan salat lima waktu, tidak lebih dan tidak kurang. Saya akan berpuasa Ramadan, tidak lebih dan tidak kurang.” Nabi SAW memuji kesederhanaan dan keteguhan itu, seraya menyatakan bahwa ia akan selamat jika benar-benar menjalankannya.
Inilah Islam yang memikat hati bangsa-bangsa Eropa pada masa lalu: ajaran yang jernih, etika yang lembut, dan perilaku yang konsisten. Tanpa konflik, tanpa fanatisme buta, tanpa membawa perpecahan.
Syekh Ath-Thayyib menegaskan bahwa menghadirkan wajah Islam yang damai, berakhlak, dan mudah didekati adalah bentuk dakwah terbaik.
Saat muslim di negara non-muslim hidup dengan integritas, menjalankan kewajiban dasar agama, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitarnya, itulah dakwah yang paling mengesankan dan paling efektif.
