Skip to content

Menggunakan Teori Sains untuk Menafsiri Al-Quran

Teori sains kian berkembang seiring kemajuan zaman. Bisakah menggunakan teori-teori sains untuk menafsiri Al-Quran? Syekh Asy-Sya’rawi menjawab.

FOTO Ilustrasi
FOTO Ilustrasi

Teori sains kian berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Bisakah menggunakan teori-teori sains untuk menafsiri Al-Quran?

Pertanyaan ini dijawab oleh Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam video yang sudah diterjemahkan berikut ini:

Terjemahan Video Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi

"Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu" [Surah An-Naba': 12]

"Tujuh (langit) yang kukuh" seperti yang ditunjukkan oleh konteks dalam Al-Quran, yang dimaksud adalah langit. Keterangan tentang adanya tujuh langit itu ada banyak. Keterangan tentang adanya lapisan-lapisan langit itu juga ada banyak.

Hanya saja sebagian orang berpandangan bahwa karena pengetahuan belum dapat menyingkap hakikat langit, maka mereka pun berusaha keras mengungkap makna "langit" dengan sesuatu yang dapat diterima oleh akal manusia. Terutama, ketika dalam ranah logis, telah muncul teori-teori pemikiran, di mana teori tersebut mengejutkan banyak orang ketika mendengarnya.

Dan karena murni demi agama, mereka yang senang jika agama tidak jauh dari realitas, berusaha keras untuk mendekatkan persoalan agama, khususnya persoalan gaib yang tidak terlihat, pada akal mereka. Mendekatkan pada akal adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang sekarang. Pemimpin mereka tentunya adalah Syekh Muhammad Abduh. Ia adalah tokoh madrasah rasionalitas, yang selalu berusaha mendekatkan persoalan agama yang berkaitan dengan hal gaib pada akal manusia

Itu adalah fenomena yang menunjukkan semangat keagamaan. Akan tetapi itu lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya. Kenapa? Karena persoalan agama yang berkaitan dengan hal gaib, mengimaninya adalah wajib. Cara kerja dari apa yang diimani bukan sesuatu yang harus diketahui. Dan telah saya katakan bahwa iman memiliki bagian utama, yaitu adalah iman pada Allah. Maka, ketika engkau telah beriman pada Allah dengan sadar dan kamu telah mencapai bagian utama keimanan dengan akalmu, niscaya engkau akan menerima semua yang Allah firmankan kepadamu, entah akalmu dapat menerimanya atau tidak.

Dalam dunia kasatmata juga terdapat sesuatu yang dapat membuktikan hal ini. Banyak hal yang tidak benar-benar gaib akan tetapi hanya tidak terlihat saja, karena alat untuk melihatnya belum memadai, tetapi sebenarnya itu masih memiliki fisik. Banyak hal bersifat kasatmata yang seakan adalah hal gaib seperti mikroba. Akan tetapi ketika ilmu pengetahuan semakin maju dengan adanya mikroskop dan teleskop, membuat kita mampu melihat sesuatu yang dahulu tidak dapat kita lihat.

Maka, setiap hal yang tidak dapat engkau rasakan dengan indra bukan berarti itu tidak ada. Engkau harusnya menyalahkan indramu karena ia tidak dapat menjangkau hal tersebut. Adanya sesuatu yang dahulunya gaib, kemudian sekarang menjadi kasatmata adalah dalil bahwa akalmu tidak boleh ragu pada hal gaib, karena ia tidak dapat menjangkaunya. Akan tetapi katakan, "Selama Allah yang mengatakannya maka itu pasti ada, baik aku bisa menjangkaunya atau tidak"

Dan ketika ilmu pengetahuan senantiasa menyingkap rahasia-rahasia Allah di alam semesta-Nya yang dulunya adalah hal gaib di mata manusia, lantas sekarang menjadi kasatmata, apakah itu bukan merupakan dalil bagi saya bahwa ketika Allah berfirman pada saya tentang hal gaib, saya tidak boleh menolaknya hanya karena saya tidak menjangkaunya. Karena telah kita katakan pada sesuatu yang bersifat kasatmata itu dulunya adalah hal gaib lantas sekarang menjadi kasatmata. Maka jadikanlah hal tersebut perantara untuk beriman bahwa banyak hal gaib, yang mana akalmu tidak menjangkaunya, akan tetapi Allah mengatakannya, maka kita harus percaya.

Karenanya, tatkala Al-Quran memuji orang mukmin, Dia mengatakan "yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib" [Surah Al-Baqarah: 3]

Karena beriman pada sesuatu yang kasatmata adalah hal yang dapat dilakukan oleh orang mukmin dan yang bukan. Maka tidak ada keistimewaan bagi orang mukmin kecuali karena beriman pada hal gaib. Sedangkan ketika sesuatu itu diterima oleh akal dan didukung oleh pancaindra, maka apa yang membuatnya disebut beriman!? Ia selamanya tidak bisa disebut beriman!

Maka ketika mereka berpandangan bahwa langit tidak dapat dirasakan oleh indra kita, dan tidak dapat kita teliti, dan kita tidak dapat mengetahui apa pun tentangnya, apa yang mereka katakan? Mereka mengatakan bahwa langit adalah setiap hal yang ada di atasmu dan menaungimu, dan planet, matahari, bulan dan bintang yang ada di atas kita ini, semuanya adalah langit.

Akidah

Kumpulan tulisan yang membahas akidah dan keyakinan muslim dapat teman-teman baca

di sini

Dan setelah mengalihkan dari ranah gaib menjadi ranah materiel, mereka menambahi bahwa planet yang mengorbit yang mereka tahu saat itu ada tujuh dan itu sesuai dengan bilangan bahwa langit ada tujuh. Akan tetapi terungkap setelahnya bahwa planet yang mengorbit di sekeliling matahari tidak hanya tujuh. Terungkap adanya planet lain. Lalu, bukankah langit tidak lain adalah matahari dan planet yang mengitarinya? Baik, terdapat banyak bintang dan planet yang kita tahu. Maka, mereka ingin mendekatkan permasalahan ini pada logika modern, sehingga mereka mengatakan bahwa langit adalah matahari, bulan dan planet

Imam Muhammad Abduh ingin menafsiri "...langit yang telah dibangun-Nya", dalam firman-Nya:

"...langit yang telah dibangun-Nya. Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya. Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang)" [Surah An-Nazi’at: 27-29]

...dan pada ayat:

"Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu" [Surah An-Naba': 12]

Ia mengatakan apa maksudnya "membangun"? Maknanya adalah menjadikan sesuatu saling berpegang erat sehingga tidak saling tercerai. Ini makna "membangun". Seperti ketika kita menyusun bata, lalu kita meletakkan di antara bata-bata tersebut, bisa berupa tanah liat, gips, atau semen. Semua itu adalah proses membangun.

Baik, ya Imam. Matahari, bulan dan planet adalah "langit". Lalu, "membangunnya" maksudnya apa? Menjadikannya saling berpegang erat, sehingga tidak ada yang keluar dari orbitnya dan saling berpegang erat dengan adanya hukum gravitasi. Karena adanya hukum gravitasi yang digagas oleh Newton di abad ke 17, sehingga mereka menggunakan hukum ini dan mengatakan bahwa Al-Quran selaras dengan hukum ilmiah.

Benar, agama tidak akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Ilmu adalah cahaya. Hanyalah disebut ilmu jika telah sampai pada taraf hakikat (kenyataan). Karena tidak mungkin ada perselisihan antara firman Allah dan makhluk-Nya. Allahlah yang menciptakan makhluk dan Allahlah yang berfirman dalam Al-Quran. Maka, selamanya tidak akan ada pertentangan.

Pertentangan tidak lain muncul dari apa? Engkau menganggap sesuatu dalam Al-Quran sebagai hakikat, berdasarkan pemahamanmu, padahal itu belum sampai taraf hakikat (kenyataan), atau menganggap sesuatu di alam semesta sebagai hakikat, berdasarkan pemahamanmu, padahal itu belum sampai taraf hakikat.

Sedangkan jika engkau benar-benar telah memahami Al-Quran sampai pada taraf hakikat juga memahami alam semesta sampai pada taraf hakikat, maka selamanya tidak mungkin terdapat pertentangan. Akan tetapi manusia selalu saja tergesa-gesa. Setiap kali melihat sekilas adanya ilmu atau teori, mereka berusaha menafsiri hal gaib dari Allah dengan teori tersebut.

Benar, mereka memang memiliki niat yang ikhlas dalam hal ini. Akan tetapi, ikhlas saja terkadang membahayakan, karena bukanlah termasuk tugas agama, menurunkan standar agama sesuai dengan akal manusia. Akan tetapi tugas yang sebenarnya adalah menaikkan standar akal manusia sesuai dengan agama. Masalah ini, engkau tahu atau tidak, sama saja

Artinya, ini adalah permasalahan logika dan ilmu pengetahuan. Jika engkau tahu bahwa langit itu demikian dan demikian, itu tidak akan berdampak apa pun pada pemanfaatanmu padanya sesuai tujuan Allah. Akan tetapi jika engkau mendapat manfaat maka cukuplah itu.

Selanjutnya, apa yang ditinggalkan oleh pemikiran abad ke-20 pada pemikiran abad ke-30 dan abad ke-40, jika setiap hari, kita mendapat ilmu yang menyingkapkan kita pada suatu kenyataan. Jika pemikiran di abad 20 ingin menyingkap suatu hal yang dianggap gaib saat ini, maka apa yang akan diberikan pada pemikiran abad ke-30. Tidak mungkin rahasia-rahasia Allah akan habis seperti itu. Setiap hari Allah menunjukkan sebagian rahasia-rahasia pada makhluk-Nya.

Karenanya, kita katakan dalam firman Allah: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”, bahwa mereka akan senantiasa “Kami perlihatkan”. Bukan "Telah kami perlihatkan". Tidak! Sampai hari kiamat kita akan membacanya "Akan kami perlihatkan". Artinya, setiap harinya kita pasti akan mendapati hal baru.

Lalu, andaikan kita ingin memahami makna "langit" dan seterusnya, sesuai dengan pemahaman saat ini, dan kita tergesa-gesa dalam hal tersebut, karena ingin memuaskan logika modern, agar Al-Quran selaras dengan pengetahuan ilmiah. Selanjutnya, andaikan teori ilmiah berganti, apa yang kita katakan sekarang?


💡
Simak terjemahan lain di kanal YouTube Tawazun ID dan Subscribe untuk mengikuti update terkini.

Latest