Skip to content

Menemukan Allah di Antara Bahagia dan Sedih: Refleksi atas Hikam Ibnu Athaillah (1)

Kebahagiaan dan kesedihan adalah dua jalan yang menuntun jiwa mengenal Allah. Dalam setiap lapang dan sempit, ada hikmah yang mendewasakan batin.

FOTO Menara Kairo dan Sungai Nil. (Unsplash/Roaming Pictures)
FOTO Menara Kairo dan Sungai Nil. (Unsplash/Roaming Pictures)

Perjalanan mendekatkan diri kepada Allah, adalah perjalanan panjang dan berliku. Di tengah kehidupan dunia yang tandus bak padang pasir, manusia kerap terjebak dalam kekeringan jiwa. Kita butuh jeda—oase untuk dapat menyegarkan jiwa dari hiruk-pikuk dunia yang semakin hari semakin gersang. Dalam momen semacam ini, tasawuf hadir sebagai oase spiritual, sumber mata air yang akan menuntun kita kepada ruh agama; dimensi spiritualitas dan kejernihan hati.

Di antara khazanah tasawuf yang kaya dan mendalam, Al-Hikam Ibnu Athaillah menempati posisi istimewa. Kitab ini, meski ringkas, mampu merangkum inti kebijaksanaan dari ajaran para sufi terdahulu dengan bahasa yang padat dan menyentuh. Tak heran bila Al-Faqih Al-Bannani pernah berkata, “Seandainya salat boleh dengan selain dari Al-Quran, niscaya kalimat-kalimat Al-Hikam sudah cukup menjadi bacaan salat.”

Tulisan ini mencoba meneguk hikmah dari tiga bait Al-Hikam (90-92) yang menyinggung dua keadaan pokok manusia; kebahagiaan (Al-Basthu) dan kesedihan (Al-Qabdhu). Dua kondisi yang selalu silih berganti mengitari kehidupan manusia dalam proses perjalanan spiritualnya menuju Allah.

Dalam tasawuf, Al-Qabdhu dan Al-Basthu dipahami sebagai Hal (keadaan) yang niscaya dialami seorang salik beriringan dengan Al-Khauf dan Ar-Raja', berkaitan juga dengan Al-Man’u dan Al-Atha'. Dalam Al-Quran, Surah Al-Baqarah ayat 245, Allah menjelaskan dua kondisi tersebut;  “Walllahu Yaqbidhu wa yabsuthu wa ilaihi turja’un”. Yaitu sifat Allah sebagai Al-Qabidh (Yang Maha Menyempitkan) dan Al-Basith (Yang Maha Melapangkan).

Jebakan Kebahagiaan dan Kesedihan

Ibnu Athaillah menulis:

بَسَطَكَ كَيْ لَا يُبْقِيكَ مَعَ القَبْضِ، وَقَبَضَكَ كَيْ لَا يَتْرُكُكَ مَعَ البَسْطِ، وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لَا تَكُونَ لِشَيْءٍ دُونَهُ

“Allah melapangkanmu agar ia tidak membiarkanmu tetap dalam keadaan susah. Dan Ia menyempitkan urusanmu agar ia tidak meninggalkanmu tetap dalam keadaan mudah. (setelah dua proses ini) Allah akan mengeluarkanmu dari keduanya, agar engkau tidak bersandar pada apapun selain-Nya.” (bait ke-90)

Dalam kehidupan, kita sering terjebak dalam dua kutub ini: terlalu larut dalam bahagia, atau terlalu terpuruk dalam sedih. Padahal, keduanya adalah cara Allah mendidik jiwa agar tak berpaling dari-Nya. Kesempitan— yang menimbulkan rasa sakit— mengajarkan kita bagaimana bisa menahan hawa nafsu. Kesedihan yang diakibatkan justru akan membersihkan jiwa dari hawa nafsu, karena tidak ada yang dapat dinikmati olehnya. Maqam ini (Al-Qabdhu) biasa dialami para pemula (ahl al-bidayat) dalam perjalanan menuju Allah.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Sementara kelapangan (Al-Basth)—yang menimbulkan rasa senang dan bahagia— datang sebagai ujian dalam bentuk kenyamanan. Sebab dalam kelapangan, nafsu membuat kita –tanpa sadar— untuk merasa aman, padahal di situlah letak ujiannya. Ibnu Ajibah menyebut bahwa Al-Qabdhu itu hak Allah darimu, sedangkan Al-Basthu hakmu dari-Nya. Para arifin justru lebih takut saat diberi kelapangan dibanding ketika diuji kesempitan.

Maka, pada hakikatnya baik lapang (Al-Qabdhu) maupun susah (Al-Bashtu) merupakan tajalli dari dua sifat Allah; Al-Jalal (yaitu keagungan Allah dan kebesaran-Nya) dan Al-Jamal (yaitu keindahan Allah yang mencakup sifat-sifat kasih sayangnya).

Jiwa yang Netral dari Jebakan Hawa Nafsu

Dalam perjalanan spiritual, seorang salik akan terus diuji dengan perubahan dua keadaan ini. Bagi pemula (ahl al-bidayat), hati mereka mudah terguncang oleh rasa takut dan harap. saat ia dikuasai oleh rasa takut, hatinya ia sedih/khawatir. Sedangkan jika dikuasai oleh harap, hatinya lapang/bahagia. Namun, bagi orang yang sudah mencapai kedalaman ma’rifat, keduanya tak lagi mengusik keseimbangan batin.

Syekh Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa perubahan keadaan (dari lapang ke sempit) bergantung pada warid— pancaran cahaya Ilahi — yang masuk ke hati seorang hamba. Jika yang datang adalah warid Al-Jalal, maka muncul Al-Qabdhu; jika yang datang adalah warid Al-Jamal, maka lahirlah Al-Basthu. Tetapi bagi para arif sejati, dua keadaan ini menjadi sama saja. Mereka tetap tenang, sebab tidak lagi melihat keadaan, melainkan hanya melihat Allah di balik keadaan itu. Dalam bahasa lain, “sifat Jalal Allah tidak menghijabmu pada sifat Jamalnya, tidak pula sifat Jamal-Nya menghijabmu dari sifat Jalal-Nya.”

Mereka telah mencapai maqam tamkin — kemantapan jiwa yang tak bergeser oleh rasa bahagia atau sedih. Dalam maqam ini, kebahagiaan tak menimbulkan kelalaian, dan kesedihan tak menimbulkan keputusasaan. Segala sesuatu menjadi jalan menuju Allah. Saat dimana Allah membebaskan mereka dari kedua keadaan tersebut sehingga mereka fana dari diri mereka. Dengan begitu, mereka mencapai tahap baqa' bersama Allah SWT dan tidak bersandar pada kedua keadaan tersebut; (Al-Qabdhu dan Al-Basthu).

Walhasil, di tengah dua tarikan kutub kehidupan: sempit dan lapang, sedih dan Bahagia, hakikatnya, keduanya adalah jalan untuk mengenal Allah. Bagaimana kesedihan menjadi jalan untuk lebih mengenal-Nya, pun bagaimana kebahagiaan tidak menjadikan kita lalai untuk bersyukur kepada-Nya.

Ibnu Athaillah menutup pengajaran ini dengan pengingat lembut: Allah akan mengeluarkan kita dari dua keadaan itu — agar kita tidak bersandar pada selain-Nya. Maka, tugas kita bukanlah menghindari kesedihan atau mengejar kebahagiaan, melainkan menjaga hati tetap teguh bersama Allah dalam keduanya.

Sebab di balik setiap sempit dan lapang, ada tabir Ilahi yang menunggu untuk disingkap.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Latest