Syekh Ali Jumu’ah menyampaikan sebuah ungkapan yang sarat makna, “Jika makananmu didapat dari kapakmu, maka pendapatmu berasal dari kepalamu. Namun jika makananmu bukan dari kapakmu, maka pendapatmu bukan dari kepalamu.”
Ungkapan ini menjelaskan hubungan erat antara kemandirian dan kebebasan berpikir. Seseorang yang memenuhi kebutuhan hidupnya dari jerih payah sendiri akan lebih merdeka dalam menyampaikan pendapat. Sebaliknya, orang yang hidup dari pemberian pihak lain cenderung mengikuti kehendak orang yang memberinya makan.
Syekh Ali Jumu’ah menegaskan bahwa jika sumber penghidupan seseorang berasal dari penguasa zalim, pihak asing, atau negara yang ingin menguasainya, maka pada hakikatnya ia berada dalam kondisi terjajah. Dalam keadaan seperti itu, kebebasan berpikir dan berbicara menjadi semu.
Karena itu, orang yang makanannya bukan dari kapaknya sendiri tidak akan benar-benar mampu berbicara tentang kebebasan atau bersikap mandiri dalam urusan politik dan sikap hidup. Ketergantungan ekonomi berujung pada ketergantungan sikap dan pendapat.
Melalui nasihat ini, Syekh Ali Jumu’ah mengingatkan pentingnya kemandirian sebagai fondasi kebebasan, baik dalam berpikir, bersikap, maupun menyuarakan kebenaran.
