Skip to content

Gus Dur, The Last Supper, dan Bagaimana Menjadi Muslim yang Terhormat

Di Hari Kenaikan Isa Al-Masih, kita diajak belajar dari Gus Dur dan film The Last Supper: menjadi muslim yang terbuka, adil, dan terhormat.

FOTO Gus Dur dalam diskusi buku Islam Demokrasi Atas Bawah di Jakarta tahun 1998. (Wikimedia/CakNunDotCom)
FOTO Gus Dur dalam diskusi buku Islam Demokrasi Atas Bawah di Jakarta tahun 1998. (Wikimedia/CakNunDotCom)

Ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, saat ia tengah berpidato di hari perayaan Natal umat Kristiani pada 27 Desember 1999, Gus Dur pernah menyatakan bahwa seharusnya yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah juru selamat seluruh umat manusia, bukan juru selamat umat Kristen saja. Perkataan Gus Dur ini, menurut saya, bukan hanya sebatas pernyataan dalam konteks toleransi umat beragama semata sebagai warga negara atau kehidupan berbangsa, tapi memiliki landasan normatifnya secara teologis, selain menunjukan suatu level keimanan yang sempurna, yang tak pernah takut akan apa yang berada di luar dirinya, hal-hal yang terkadang tak dapat diprediksi atau tak terjangkau oleh suatu nalar-keimanan yang tertutup.

Hal itu kemudian dapat kita lihat melalui tulisannya di tahun 2003 yang berjudul, "Harlah, Maulid, dan Natal", dalam situs Gusdur.net (yang akan saya kutip secara utuh). Gus Dur berargumen bahwa Natal dalam Al-Quran disebut sebagai "yauma wulida" (hari kelahiran), secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa: "kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)", (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam Surah Maryam: "Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku" (as-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci Al-Quran, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga.

Dalam hal ini, saya sepakat dengan apa yang dikatakan Gus Dur. Dan menjadi salah satu alasan saya untuk mau mempelajari kehidupan Isa Al-Masih atau Yesus lebih jauh lagi, tak hanya dalam tradisi keislaman, melainkan juga dari tradisi agama Kristiani. Dalam riwayat kehidupan Isa Al-Masih atau Yesus, bisa dibilang telah cukup lama saya mempelajari kisah hidupnya dan ajarannya. Saya mempelajari sosok kenabian Isa Al-masih atau Yesus ini dari kedua tradisi keagamaan besar tersebut melalui kitab suci dan kitab keagamaan lainnya (Al-Quran, hadits, kitab para ulama, Injil Kanonik, Injil Barnabas, dst.), serta buku-buku sejarah agama pada umumnya dan secara khusus (seperti buku Yesus besutan Leith Anderson), atau bahkan dari penjelasan para teolog-filsuf Kristen itu sendiri seperti Martin Luther, Karl Barth, Jean-Luc Marion, dan lainnya, di samping tentu saja dari para sarjana dan cendikiawan muslim.

Selain itu, produk-produk budaya seperti film dengan beragam versi, sangat membantu saya dalam memahami lebih jauh dan membangun imajinasi secara “konkret” tentang sosok Isa Al-Masih atau Yesus: 1) Film The Passion of The Christ (2004) besutan Mel Gibson; 2)The Gospel According To St. Matthew (1964), yang uniknya dari film ini dibuat oleh seorang penulis dan ateis ternama asal Italia bernama Pier Paolo Pasolini; 3) Dalam sudut pandang Islam dengan judul The Messiah (2007) besutan Nader Talebzadeh, seorang sutradara asal Iran, dan terakhir; 4) The Last Supper (2025), yang mengikuti sudut pandang kekristenan Barat, disutradarai oleh Mauro Borrelli serta ditulis oleh dirinya sendiri dan John Collins.

Dalam konteks inilah, saya pun hendak membicarakan dari salah satu sumber yang telah saya pelajari, yaitu dari film The Last Supper. Saya akan menguraikan secara ringkas alur cerita dan narasi yang hendak dibangun dalam film The Last Supper, terutama yang menurut saya penting, sebagai objek pembahasan dari artikel singkat ini. Tujuan saya dalam mempelajari kehidupan dan ajaran dari Isa Al-Masih atau Yesus, adalah untuk mencari tahu dan membandingkan perihal apa yang tetap dan berubah, di titik mana dan sejauh mana perbedaannya dan kesamaannya, serta apa yang bisa kita petik dari ajaran Nabi Isa atau Yesus dalam tradisi keagamaan Islam dan Kristen. Walaupun, sebagai seorang muslim, saya pun menyadari bahwa ada perbedaan mendasar (akidah) dan signifikan dari kedua tradisi keagamaan itu (Islam dan Kristen) dalam kisah kehidupan dan ajaran Nabi Isa Al-Masih atau Yesus.

Akan tetapi, bukan berarti hal tersebut menjadi hambatan bagi saya, atau seorang muslim lainnya, untuk mempelajari sejarah kehidupan dan ajaran beliau dalam proses belajar dan pencarian kebenaran, terutama dengan tujuan untuk memperteguh keyakinan kita atas ajaran Islam. Sebagai seorang pembelajar, saya pun harus berani untuk melepaskan asumsi-asumsi keagamaan yang telah saya dapatkan sekaligus telah dianggap mapan sejak dulu oleh masyarakat pada umumnya, dan berusaha untuk bersikap kritis dan “objektif” saat mempelajari kisah hidup dan ajarannya tersebut, meskipun bukanlah perkara yang mudah.

Lalu apa alasan saya memilih film The Last Supper, dan bukan yang lainnya? Sederhana saja, karena film ini baru dirilis dan tengah ramai diperbincangkan. Ada banyak tokoh keislaman seperti Habib Jafar, misalnya, yang membahas pengalamannya secara selintas saat menyaksikan film The Last Supper, selain sebagai misi toleransi keberagamaan di Indonesia juga untuk mempelajari kehidupan Nabi Isa Al-Masih dalam versi kekristenan. Di sisi lain, tak sedikit pula dari kalangan teman-teman muslim yang enggan dan fobia untuk menyaksikan dan mempelajari film-film bernuansakan sejarah keagamaan atau drama sejarah semacam The Last Supper ini karena alasan keimanan. Menurut saya, hal tersebut sah-sah saja, meskipun terlihat konyol juga, dalam arti apakah karena sebuah film membuat keimanan seseorang secara otomatis bisa lenyap begitu saja.

Memang benar, apabila tingkat keimanan seseorang itu berbeda-beda dan tak dapat diprediksi seumpama roller coaster: bisa naik, bisa turun, secara mendadak. Walaupun tak bisa diprediksi, setidaknya, masih bisa diukur. Karena itu, pertanyaannya sederhana, apakah keimanan seorang muslim hanya diukur dari sebuah film, misalnya, jika seseorang melihat film itu berarti ia telah kehilangan keimanan, karena secara tak langsung telah menyetujui apa yang ada di dalam film tersebut? Dan apakah masyarakat muslim kita hari ini akan selalu menutup diri atau fobia ekstrem dengan berbagai produk pengetahuan dan kebudayaan (film, seni atau karya sastra, misalnya) yang memiliki muatan kekristenan atau ajaran agama lain, atau dihasilkan dari seorang sosok yang memiliki keyakinan yang berbeda dari diri kita?

Dalam kasus semacam ini, ada baiknya kita sedikit menengok pada penjelasan Imam Nawawi Al-Bantani. Di dalam Kasyifatus Sajah (trj. Arab-Indonesia; 2018), Syekh Nawawi memaparkan bahwa keimanan itu ada lima tingkatan di antaranya; iman taklid, iman ilmu, ainul yaqin, iman haq (haqqul yaqin), dan iman hakikat. Semua tingkatan keimanan itu, menurut Syekh Nawawi, adalah mulia karena bersumber dari Allah, walaupun berbeda derajatnya di sisi Allah. Jika kita berangkat dari penjelasan tentang lima tingkatan keimanan Syekh Nawawi ini, artinya keimanan seseorang yang selalu diselimuti ketakutan secara berlebihan, tertutup, penuh dengan kecurigaan yang dangkal, (bukan suatu keimanan yang memberikan pencerahan), bisa dikatakan bahwa keimanannya itu masih dalam tingkatan pertama, yaitu keimanan taklid: keimanan yang didasarkan pada ucapan orang lain (ustaz atau ulama panutannya, atau kelompoknya sendiri, misalnya) tanpa memahami kebenaran atau dalilnya.

Menurut Syekh Nawawi, keimanan orang semacam ini sah-sah saja meski ia terbilang “bermaksiat” karena meninggalkan upaya pencarian kebenaran atau dalil itu sendiri, apabila ia termasuk orang yang dalam kategori mampu untuk melakukan pencarian dalilnya. Karena kedua keimanan pada dua tingkatan awal (iman taklid dan iman ilmu) dapat diupayakan oleh manusia. Sedangkan tingkat keimanan selanjutnya merupakan anugerah Tuhan (laduni) yang tidak bisa hanya diupayakan oleh manusia karena didasarkan pada kehendak Tuhan.

Lebih lanjut, keimanan semacam itu pada akhirnya hanya akan menjadikan diri seseorang itu menjadi mandeg, dipenuhi dengan kecurigaan-kecurigaan liar dan ketakutan berlebihan, sehingga perlu suatu ikhtiar lebih keras untuk terus meningkatkan level keimanannya agar tak berujung pada ekstremisme atau fanatisme buta. Saya pun jadi teringat suatu ungkapan dari Gus Dur yang barangkali relevan dengan kasus semacam ini, yaitu "hamba amatiran". Atau dalam istilah lain (memparodikan Gus Dur), sebagai "muslim amatiran", alasannya karena keimanannya itu cenderung tertutup, mudah sekali terganggu, dan selalu fobia dengan hal-hal di luar keyakinannya. Maka untuk menyandang gelar "hamba" (mukmin), atau bahkan muslim yang terhormat saja, masih belum pantas. Mungkin hanya orang-orang yang tak lagi mudah terganggu dan fobia pada hal-hal di luar dirinya, orang-orang yang benar-benar alim dan hatinya bersih, atau memiliki kecerdasan intelektual-spiritual semacam Gus Dur, misalnya, yang pantas menyandang gelar "hamba" (atau mukmin).

Melalui Gus Dur kita dapat belajar bahwa keimanan bukanlah suatu benteng besi yang keras, kaku, dan tertutup, yang selalu siap menghalau apapun dan siapapun yang mendekat ke arahnya, melainkan sebagai sebuah “suluh”. Keimanan sebagai sebuah “suluh” adalah keimanan yang memberikan penerangan, memberikan pencerahan pada dirinya dan sekitarnya, yang mampu menuntun kita ke wilayah-wilayah yang gelap tak terduga dan terkadang membahayakan, tetapi ia tetap saja tak gentar untuk menghadapinya. Sebab ada banyak hal di luar diri kita yang sebenarnya tak sepenuhnya kita ketahui, yang tak dapat diprediksi, hingga pada akhirnya membuat kita mau berendah hati dan belajar dari berbagai hal di luar apa yang telah kita percayai benar. Intinya, menjadikan segala sesuatu sebagai pelajaran atau hikmah untuk semakin menerangi dan memperteguh keimanan kita.

Sebagaimana pengalaman saya saat menyaksikan film The Last Supper, faktanya tak membuat saya secara otomatis meragukan atau meninggalkan keimanan saya dalam Islam. Justru yang terjadi malah sebaliknya, saya mendapatkan banyak pelajaran dari film ini. Ada banyak hal yang mampu membuat saya merenungkan kembali tentang kepribadian dan ajaran dari Isa Al-Masih atau Yesus menurut versi kekristenan dalam wilayah etika-sosial, bukan pada dimensi akidah yang jelas tampak berbeda. Dari sana akhirnya tumbuh rasa simpatik pada sosok Isa Al-Masih atau Yesus, di samping muncul pula beberapa pertanyaan yang mungkin terkesan "menggelitik" bagi sebagian orang.

Secara ringkas, film ini mengisahkan tentang hari-hari terakhir Nabi Isa Al-Masih atau Yesus, lebih tepatnya momen Perjamuan Terakhir Isa Al-Masih bersama murid-muridnya sebagaimana judulnya The Last Supper (Perjamuan Makan Malam Terakhir). Di dalam film, scene dibuka ketika Isa Al-Masih atau Yesus tengah berkhotbah di hadapan orang banyak di pinggir pantai. Kemudian, masih di tempat yang sama, ditampilkan pula secara sepintas mukjizat dari Isa Al-Masih, ketika ia mengobati seorang bocah yang bisu hingga mampu berbicara kembali serta saat ia melipatgandakan roti dan ikan untuk diberikan kepada orang-orang miskin. Ada satu sabda atau perkataan beliau yang menggetarkan di adegan awal ini; "Berkatilah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran".

Perkataan itu, bagi saya, menunjukkan bahwa dalam ajaran Kristiani melalui Isa Al-Masih atau Yesus, nyatanya juga mengajarkan tentang solidaritas sosial, untuk senantiasa mengasihi orang-orang yang lapar atau miskin, dan orang-orang yang tengah mencari tahu akan kebenaran. Prinsip atau ajaran tentang berpihak dan mengasihi pada orang-orang miskin ini pun dipertegas pada adegan-adegan selanjutnya. Misalnya, ketika Isa Al-Masih ditawari oleh rabi Yahudi untuk mengorganisir massa dalam melawan kekuasaan Imperium Romawi dan menjajikan ia dengan kekayaan dan kekuasaan seperti menjadi raja untuk bangsa Israel Yahudi, tetapi ditolak dengan tegas oleh Isa Al-Masih atau Yesus. Kemudian pengakuan dari muridnya sendiri yang kelak berkhianat kepadanya, Yudas Iskariot, bahwa Isa Al-Masih atau Yesus lebih memilih kerendahan hati, kedamaian, dan memilih dalam kemiskinan, ketimbang hidup dalam kekayaan dan menjadi seorang raja.

Adegan-adegan semacam ini sangatlah mengesankan sekaligus mengingatkan saya pada apa yang telah diajarkan dalam Islam oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Islam sendiri, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, mengajarkan kesederhanaan, kerendahan hati, kerukunan atau perdamaian, keadilan, dan paling penting mencintai orang-orang miskin atau mustadhafin. Bahkan sama halnya dengan Isa Al-Masih atau Yesus dalam adegan pembuka itu, yang mana pada awal dakwahnya, Nabi Muhammad SAW menolak semua bentuk penawaran dari kaum musrik Makkah berupa kekuasaan, kekayaan, dan perempuan, serta lebih memilih hidup dalam kesederhanaan di kemudian hari layaknya para fakir miskin di Madinah, sebagai bentuk kecintaan Nabi Muhammad kepada kalangan mustadhafin.

Kita pun dapat melihat bukankah apa yang diajarkan dari kedua tradisi keagamaan yang dipandang memiliki perbedaan secara fundamental (akidah), misalnya, pada akhirnya memiliki kesamaan dalam hal kebijaksanaan dan "kesalehan sosial" (kesederhanaan, kerendah-hatian, keadilan, mencintai orang miskin, dan perdamaian)? Dari sini saya pun dapat menyimpulkan bahwa memang benar terdapat perbedaan-perbedaan secara fundamental yang tak dapat didamaikan, akan tetapi, faktanya, setiap agama akhirnya mengajarkan suatu kebaikan kepada umat manusia, sebagaimana hal ini pernah diutarakan oleh Gus Dur. Dalam hal ini, suka atau tidak suka kita pun harus mau mengakuinya dan saling menghormati satu sama lain.

Akidah

Sepilihan artikel bertema akidah dapat teman-teman temukan

di sini

Apalagi jika persoalan itu kita teropong lebih jauh lagi, semisal, melalui tradisi sufisme, di saat kita kesulitan untuk mengakui fakta tersebut akibat adanya perbedaan secara fundamental (akidah). Saya akan mengambil model lain untuk membahas perihal ini agar menjadi lebih terang, yaitu melalui logika mistika Ibn Arabi. Alasannya, Ibn Arabi merupakan sosok yang, menurut saya, cukup berhasil dalam memjembatani kesenjangan ekstrem di antara agama-agama melaui konsepnya tentang Wujud Mutlak (Al-Haqq). Bagi Ibn Arabi, nama-nama Tuhan (Allah, Yahweh, Yesus, Sang Hyang, Brahma, Wisnu, dan lainnya) yang akhirnya membedakan dalam setiap masing-masing agama tersebut, sebenarnya tidaklah mengacu atau merujuk pada Wujud Mutlak (Tuhan yang mutlak dalam kemutlakan-Nya).

Dan Tuhan dengan nama-namanya itu sekaligus dengan sifat-sifatnya merupakan suatu bentuk tajalli (manifestasi diri) dari Wujud Mutlak (Al-Haqq) itu sendiri, dengan kata lain suatu bentuk partikular dari Wujud Mutlak. Sementara Wujud Mutlak (Al-Haqq) ini tak akan pernah dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia. Toshihiko Izutsu, dalam bukunya Sufisme: Samudra Makrifat Ibn Arabi (2016), menjelaskan bahwa Wujud Mutlak (Al-Haqq) ini merupakan sesuatu yang tidak diketahui dan tidak akan pernah bisa diketahui, yang merupakan Misteri dari segala misteri, atau Rahasia dari segala rahasia.

Persoalannya kemudian adalah apakah hal itu menandakan bahwa pada akhirnya semua agama itu sama-sama benar? Jawabannya, jelas tidak sama. Sebagaimana yang telah disinggung di paragraf sebelumnya, secara formal terdapat perbedaan fundamental dari setiap agama, walaupun di wilayah etika-sosial lebih banyak kemiripan ketimbang perbedaan, khususnya dalam konteks Islam dan Kristen.

Sebab itu, persolaannya tak hanya selesai sampai di situ. Dalam sufisme Ibn Arabi, penyembahan akan Tuhan tidak hanya terhenti pada level tasybih semata, yang memiliki arti penyembahan yang menyerupakan Tuhan dengan benda-benda ciptaan-Nya (seperti Tuhan maha mendengar dan melihat, dan mendengar serta melihat ini merupakan ciri dari makhluk ciptaan-Nya), melainkan haruslah sampai pada level tanzih, bahwa Tuhan secara mutlak bebas dari segala ketidaksempurnaan sebagaimana ciptaan-Nya, atau Wujud Mutlak (Al-Haqq) yang tidak diserupakan lagi dengan apapun.

Lebih lanjut, menurut Ibn Arabi, terutama sebagai seorang muslim, “penyembahan” yang sempurna serta semestinya dilakukan, sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, adalah melakukan secara tasybih sekaligus tanzih dalam satu tarikan napas, atau secara bersamaan. Dengan kesadaran ini pula, pada akhirnya, kita hanya mampu berendah hati dan saling menghormati satu sama lain, dan percaya bahwa agama pada akhirnya mengajarkan kebaikan pada umat manusia (misalnya, dalam wilayah etika-sosial). Sebab melalui logika mistika Ibn Arabi ini, kita tidak dapat memastikan sepenuhnya, atau tergesa-gesa untuk melakukan penghakiman, perihal manakah yang lebih benar atau salah dari suatu pemeluk agama atas penyembahan akan Tuhan. Bisa jadi suatu pemeluk agama hanya menyembah Tuhan pada tingkatan tasybih, sedangkan yang lainnya pada tingkatan tanzih semata, atau ada pula yang dilakukan secara bersamaan antara keduanya.

Syahdan, kembali kepada film, adegan yang paling mengesankan lainnya adalah ketika Isa Al-Masih atau Yesus mengobrak-abrik Bait Suci di Yerusalem saat menjelang hari Paskah. Waktu itu Yesus geram melihat tempat ibadah Tuhan disulap menjadi "pasar", atau dalam film Yesus menyebutnya sebagai "tempat pencurian". Peristiwa ini direkam dengan baik dalam kitab Injil ayat Matius (21: 12), Markus (11: 15-17), dan Lukas (19: 45-46). Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dengan kemarahan yang menyala Isa Al-Masih atau Yesus mengusir orang-orang yang berjual beli di Bait Allah, membalikkan meja-meja penukar uang, dan kursi-kursi pedagang merpati, serta melepaskan kawanan domba. Padahal, sebagaimana yang dipahami secara umum oleh sebagian besar orang bahwa ajaran Isa Al-Masih atau Yesus dalam Kristen sangatlah menjunjung cinta kasih. Hal itu tercermin dalam salah satu perkataan Yesus dalam Injil: "Jika pipi kananmu ditampar, berikanlah juga pipi kirimu" (Matius 5: 39).

Lalu apa yang membuat Isa atau Yesus sedemikian marah dalam sepanjang kehidupannya itu? Apa alasan yang sebenarnya? Menurut saya, jawabannya adalah adanya ketidakadilan. Bukan hanya karena Bait Suci diubah menjadi "pasar" semata sehingga membuat Yesus marah dan membalikkan meja-meja penukar uang serta kursi-kursi pedagang merpati, melainkan karena telah terjadi kecurangan, korupsi, dan ketidakadilan, sehingga tak heran jika Isa Al-Masih menyebutnya sebagai "tempat pencurian". Tindakan dari Isa Al-Masih atau Yesus dalam adegan ini sangatlah progressif, atau jika tak bisa dibilang revolusioner. Karena Isa Al-Masih dengan berani, walaupun seorang diri, menentang ketidakadilan dari para pendeta Yahudi dan kekaisaran Romawi. Dalam arti lain, Yesus menentang politisasi agama demi kepentingan segelintir orang (dalam hal ini para rabi Yahudi dan orang-orang Romawi) untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomi dan politik. Dan politisasi agama ini relevan dengan kondisi hari ini, di mana agama dijadikan alat oleh segelintir orang untuk meraup keuntungan secara ekonomi atau sebagai alat legitimasi politik. Bukankah hal-hal semacam ini, yang menurut saya, perlu kita ambil teladan, terutama di zaman ini ketika maraknya politisasi agama?

Selain itu, ada suatu adegan lain yang cukup mengusik pikiran saya, yaitu pada malam terakhir menjelang penyaliban. Ketika Isa duduk bersama murid-muridnya di meja Perjamuan Terakhir, seketika Isa Al-Masih mendapatkan suatu gambaran masa depan, atau dalam istilah lain suatu "visi kenabian". Ia melihat momen dirinya yang tengah akan disalib di waktu mendatang, dan wajahnya pun berubah kemerahan sekaligus berkaca-kaca. Pada momen ini mengusik pikiran saya, bukankah Isa Al-Masih layaknya seorang nabi dan rasul pada umumnya sebagaimana nabi dan rasul terdahulu, sehingga wajar saja jika ia nampak bergetar dan meneteskan air mata setelah mendapatkan pengelihatan dari "visi kenabiannya”. Seketika saya pun teringat salah satu ayat Al-Quran, karena momen ini mencerminkan apa yang dijelaskan dalam ayat Al-Quran tersebut, walaupun dengan kondisi yang berbeda:

"Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Surah Ali-Imran: 144).

“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan” (Surah Al-Maidah: 75).

Dengan demikian, melalui film The Last Supper ini, ada banyak hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran atau diambil hikmahnya. Dimulai dari kesederhanaan, cinta kasih, keadilan, perdamaian, atau keberpihakan kepada orang-orang lemah, meskipun ada pula hal-hal yang mengusik pemikiran dan kiranya memang perlu disikapi secara kritis. Dan bukankah dalam Islam sendiri bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita perihal kesederhanaan, keadilan, cinta kasih, perdamaian, dan mencintai orang-orang miskin? Bukankah Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan kita untuk mengambil hikmah dari manapun, dari siapapun?

Akan tetapi, hikmah atau suatu pelajaran itu hanya akan kita peroleh melalui sikap keterbukaan dalam berbagai hal, melalui iman sebagai penerang, bukan melalui keimanan yang tertutup serta diliputi ketakutan berlebih. Dengan keimanan semacam ini, iman sebagai “suluh”, sebagai penerang, kita pun dapat menjadi seorang muslim yang terhormat, yang mampu menebarkan cinta kasih, kepedulian, penghormatan, keadilan, dan kedamaian untuk seluruh alam (rahmatan lil alamin), salah satunya kepada pemeluk agama lain.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Dedi Sahara

Latest