Skip to content

At-Tuhfah Al-Bahiyyah, Hadiah Al-Azhar Bagi Pelajar Nusantara

At-Tuhfah Al-Bahiyyah karya Syekh Muhammad Al-Jauhari, guru ulama Nusantara, memiliki sejarah panjang. Kitab ini siap diluncurkan oleh Al-Azhar.

FOTO Sampul depan At-Tuhfah Al-Bahiyyah yang diluncurkan Al-Azhar pada Pameran Buku Internasional Kairo ke-56.
FOTO Sampul depan At-Tuhfah Al-Bahiyyah ‘ala Nazhmi Al-Ajurrumiyyah yang diluncurkan Al-Azhar pada Pameran Buku Internasional Kairo ke-56.

Aroma harum Pameran Buku Internasional Kairo ke-56 mulai tercium semerbak di mana-mana. Sejumlah penerbit, baik dari Mesir maupun negara lain, telah mempromosikan beragam karya terbarunya. Tak ketinggalan pula Al-Azhar, yang sejak 2017 M telah aktif meramaikan pesta buku tahunan ini.

Pada pameran yang akan dibuka pada 23 Januari 2025 M mendatang, Al-Azhar melalui beberapa lembaganya siap meluncurkan sejumlah karya baru yang hampir setiap hari diperbarui dan diumumkan. Salah satu mutiara yang akan menghiasi pameran kali ini adalah kitab At-Tuhfah Al-Bahiyyah ‘ala Nazhmi Al-Ajurrumiyyah karya Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jauhari Al-Azhari. Kitab ini benar-benar masih sangat hangat karena belum pernah terbit di percetakan mana pun. Mari kita kenali lebih dekat!

Keutamaan Ilmu Nahwu dan Kitab Al-Ajurrumiyyah

Bagi pelajar agama, ilmu nahwu adalah pintu gerbang yang harus dilalui. Gerbang pertama dari ilmu ini adalah kitab Matn Al-Ajurrumiyyah karya Syekh Muhammad bin Muhammad Ash-Shinhaji (w. 723 H). Semenjak selesai dikarang, kitab ini menjadi primadona di seantero dunia, termasuk di seluruh pelosok Nusantara. Bahkan, Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari dalam sebagian kitabnya menukil dari Syekh Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari, bahwa kata "grammar" dalam Bahasa Inggris diambil dari kata Al-Ajurrumiyyah. Hal ini tidak terlepas dari keberkahan keikhlasan penulisnya.

Semenjak masuk di Al-Azhar, kitab ini langsung mendapatkan sambutan hangat dari para ulamanya. Mereka menjadikannya sebagai bahan ajar paten dalam disiplin ilmu nahwu. Hal ini terbukti dari banyaknya syarah dan hasyiyah atas kitab tersebut yang lahir dari jerih payah ulama Al-Azhar. Selain memberi syarah dan hasyiyah, sejumlah ulama Al-Azhar juga menggubahnya dalam bentuk nazam, sehingga materi yang dikandung semakin mudah dipahami dan diresapi.

Nazam Al-Ajurrumiyyah dan Tradisinya di Al-Azhar

Di antara ulama Al-Azhar yang menazamkan Al-Ajurrumiyyah adalah Syekh Ali bin Hasan Al-Azhari (w. 913 H) dalam Al-‘Alawiyyah fi Nazhm Al-Ajurrumiyyah; Syekh Rifa’ah Rafi’ Ath-Thahthawi (w. 1290 H) dalam Jamal Al-Ajurrumiyyah; dan Syekh Syarafuddin Yahya Al-‘Amrithi (w. sekitar 989 H) dalam Ad-Durrah Al-Bahiyyah. Dari ketiga nazam ini, barangkali yang paling banyak menarik perhatian ulama adalah nazam Ad-Durrah Al-Bahiyyah karya Al-‘Amrithi. Di Nusantara, nazam ini lebih populer dengan nama pengarangnya, yaitu Nazhm Al-‘Amrithi.

Dalam Jami‘ Asy-Syuruh wa Al-Hawasyi, Al-Habsyi menyebutkan 12 syarah atas nazam Ad-Durrah Al-Bahiyyah. Berikut adalah daftar lengkapnya:

  1. Al-Qiladah Al-Jauhariyyah Syarh Nazhm Al-Ajurrumiyyah karya Syekh Syihabuddin Al-Fasyni (w. sekitar 978 H).
  2. Ghurar Ad-Durar Al-Wasithiyyah Syarh Al-Manzhumah Al-‘Amrithiyyah karya Syekh Muhammad Al-Khalish Az-Zabidi (w. 996 H).
  3. Syarh Nazhm Al-Ajurrumiyyah li Al-‘Amrithi karya Syekh Ibrahim Al-Ahsa'i (w. 1048 H).
  4. Al-Fawatih Al-Wafiyyah li Al-Manzhumah Al-‘Amrithiyyah karya Syekh Muhammad bin Abdurrahim Ash-Shamadi (w. 1100 H).
  5. At-Tuhfah Al-Bahiyyah ‘ala Nazhm Al-Ajurrumiyyah karya Syekh Muhammad Al-Jauhari Ash-Shaghir (w. 1215 H).
  6. Syarh Manzhumah Al-‘Amrithi karya Syekh Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H).
  7. At-Tuhfah As-Saniyyah ‘ala Ad-Durrah Al-Bahiyyah li Al-‘Amrithi karya Syekh Sa’id Ba ‘Isyan (w. 1270 H).
  8. Fath Rabb Al-Bariyyah ‘ala Ad-Durrah Al-Bahiyyah karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri (w. 1277 H).
  9. Syarh Nazhm Al-Ajurrumiyyah li Al-‘Amrithi karya Syekh Abdulmu’thi Al-Babi (w. 1296 H).
  10. Syarh Al-‘Amrithiyyah fi An-Nahwi karya Syekh Khadhir Al-Baghdadi (w. 1345 H).
  11. Al-Mawahib As-Saniyyah Syarh Ad-Durrah Al-Bahiyyah li Al-‘Amrithi karya Syekh Abdullah As-Salimi (w. 1332 H).
  12. Syarh Al-‘Amrithiyyah karya Syekh Muhammad Al-‘Arabi Al-Fasi (w. 1052 H).

Di antara 12 syarah yang disebut barangkali ada satu yang diragukan sebagai syarah nazam Al-Ajurrumiyyah, ialah Syarah Syekh Asy-Syarqawi. Sebab nazam Al-‘Amrithi yang disyarahi oleh beliau adalah nazam At-Tahrir yang diberi judul At-Taisir dalam ilmu fikih.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Dari 11 nazam yang tersisa, barangkali yang pertama kali ditulis adalah Al-Qiladah Al-Jauhariyyah Syarh Nazhm Al-Ajurrumiyyah karya Syekh Syihabuddin Al-Fasyni. Sebab, Al-Fasyni merupakan murid langsung Syekh Syarafuddin Al-‘Amrithi. Sementara kitab syarah yang sudah terbit, sepanjang ini, baru tiga, yaitu Fath Rabbi Al-Bariyyah karya Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri; Al-Mawahib As-Saniyyah Syarh Ad-Durrah Al-Bahiyyah li Al-‘Amrithi karya Syekh Abdulllah As-Salimi; dan Ghurar Ad-Durar Al-Wasithiyyah Syarh Al-Manzhumah Al-‘Amrithiyyah karya Syekh Muhammad Al-Khalish Az-Zabidi. Adapun syarah yang sudah beredar luas di Nusantara adalah Fath Rabbi Al-Bariyyah karya Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri.

Dalam menazamkan kitab Al-Ajurrumiyyah, Syekh Al-‘Amrithi membuang permasalahan yang kurang diperlukan dan menggantinya dengan masalah-masalah yang dirasa lebih urgen, sehingga nazam ini layak disebut syarah atas kitab Al-Ajurrumiyyah itu sendiri. Hal ini disebutkan oleh Syekh Al-‘Amrithi dalam dua baitnya:

وَقَدْ حَذَفْتُ مِنْهُ مَا عَنْهُ غِنَى # وَزِدْتُهُ فَوَائِدًا بِهَا الْغِنَى
مُتَمِّمًا لِغَالِبِ الْأَبْوَابِ # فَجَاءَ مِثْلَ الشَّرْحِ لِلْكِتَابِ

Artinya: "Aku membuang permasalahan yang tidak diperlukan dan menambahnya dengan faedah-faedah yang lebih relevan. Sebagai penyempurna dari bab-bab yang ada, sehingga ia layaknya syarah bagi kitab itu sendiri."

Barangkali karena inilah, nazam Ad-Durrah Al-Bahiyyah mendapatkan sambutan luas dari para ulama.

Syekh Muhammad Al-Jauhari dan Hubungannya dengan Ulama Nusantara

Setelah melihat fakta di atas, kita bisa merasakan betapa pentingnya kabar gembira terbitnya syarah Al-Jauhari yang berjudul At-Tuhfah Al-Bahiyyah ‘ala Nazhm Al-Ajurrumiyyah. Setidaknya ada dua hal yang melandasi kegembiraan ini. Pertama, kitab syarah ini memperkaya khazanah keislaman yang sudah terbit dan mampu melengkapi kepingan puzzle misteri dalam nazam. Apalagi syarah ini ditulis dengan bentuk Al-Mazji, yakni antara nazam dan syarah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah.

Kedua, pengarangnya, Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jauhari, adalah tokoh besar mazhab Syafi’i yang menjadi guru bagi ulama Nusantara, termasuk Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari.

Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jauhari lahir pada 1151 H dan wafat pada 1215 H. Beliau sempat didesak para ulama untuk menduduki jabatan Syekhul-Azhar, terutama setelah wafatnya Syekhul-Azhar Ahmad Ad-Damanhuri dan Syekhul-Azhar Ahmad Al-‘Arusi. Namun, beliau memilih fokus pada ibadah, pengajaran, dan halakah dzikir, sehingga tetap berkhidmah kepada masyarakat tanpa memegang jabatan formal.

Adapun hubungannya dengan ulama Nusantara, Syekh Muhammad Al-Jauhari tercatat sebagai guru dari Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan sejumlah ulama Nusantara lainnya. Hal ini disampaikan secara detail oleh Syekh Muhammad Nafis sendiri dalam kitab Ad-Durr An-Nafis. Dalam pembahasan Khatimah yang menjelaskan martabat tujuh, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari mengutip penjelasan dari Syekh Muhammad Al-Jauhari. Yang menarik, beliau menyebutkan bahwa penjelasan ini didapatnya pada 1201 H, saat Syekh Muhammad Al-Jauhari mengajar di Masjid Al-Haram. Beliau menjulukinya dengan Syaikhuna Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Fadhil Al-Kamil Al-Mukammal Al-‘Arif Billah Maulana Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Jauhari.

Nafas Keilmuan yang Terus Hidup

Dari pengenalan ini, cukup layak bagi kita para pelajar agama untuk memiliki mutiara karya Syekh Al-Jauhari ini. Apalagi nazam Al-‘Amrithi sendiri masih terus dipelajari di Nusantara, dan pensyarahnya kali ini merupakan guru dari ulama Nusantara juga. Sehingga nafas-nafas Syekh Al-Jauhari yang sebelumnya pernah diserap oleh ulama kita terdahulu dapat kita resapi dan kita sebarluaskan ke khalayak yang lebih luas. Selamat menikmati karya istimewa ini!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik SEJARAH atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin

Latest