Skip to content

Sejarah Majalah Al-Azhar: Dari Nur Al-Islam hingga Menjelang 100 Tahun

Sejarah Majalah Al-Azhar dimulai 1349 H saat lahir sebagai Nur Al-Islam. Kini hampir 100 tahun menjadi media publikasi ilmu dan dakwah para ulama.

FOTO Majalah Al-Azhar yang dikompilasikan oleh Al-Azhar selama 75 tahun. (Properti Mujawirin)
FOTO Majalah Al-Azhar yang dikompilasikan oleh Al-Azhar selama 75 tahun. (Properti Mujawirin)

Majalah Al-Azhar merupakan sebuah majalah yang terbit setiap awal bulan hijriah. Saat pertama kali terbit, majalah ini bernama Nur Al-Islam. Ia berganti nama menjadi Majalah Al-Azhar saat memasuki edisi baru tahun ketujuhnya.

Ide penerbitan Majalah Al-Azhar mulai diusulkan pada 3 Jumadil Akhir 1345 H (8 Desember 1926 M). Saat itu, Syekh Abdul’aziz Muhammad Bik membawa gagasan ini ke Majlis A’la li Al-Ma’ahid Al-Azhariyyah untuk didiskusikan. Beliau mengusulkan agar menyiapkan biaya penerbitan majalah islami dari anggaran Ma’had Al-Azhar.

Setelah berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan, diskusi dan kajian rencana penerbitan majalah berhasil menemui kata sepakat. Pada 8 Muharam 1346 H (27 Juli 1927 M), Majlis A’la li Al-Ma’ahid Al-Azhariyyah membentuk sebuah lajnah beranggotakan para pembesar ulama Al-Azhar untuk mengkaji dan mengawal perealisasian gagasan tersebut. Pada bulan Februari 1929 M, pengalokasian dana sebesar 6000 Pound Mesir untuk biaya penerbitan berhasil diputuskan.

Pada Oktober 1929 M, Syekh Muhammad Al-Ahmadi Az-Zawahiri diangkat sebagai Syekhul-Azhar menggantikan Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi. Salah satu gagasan yang pertama kali direalisasikan adalah penerbitan majalah yang telah lama direncanakan. Beliau memberikan mandat kepada Syekh Abdul’aziz Bik Muhammad untuk menjadi direktur majalah. Sementara Syekh Muhammad Khadhir Husain diberi mandat untuk menjadi pemimpin redaksinya.

Pada 1 Muharam 1349 H (Mei 1930 M), majalah dengan nama lengkap Nur Al-Islam Majallah 'Ilmiyyah Akhlaqiyyah Tarikhiyyah Hikmiyyah Tushdiruha Masyyakhah Al-Azhar Asy-Syarif Awwala Kulli Syahrin ‘Arabiyyin berhasil terbit. Salah satu fokus majalah ini adalah menjernihkan ajaran agama Islam dari sesuatu yang liyan dan menjawab syubhat yang dilontarkan dari para musuh Islam yang menyudutkan Islam. Terbitnya majalah ini membawa nuansa baru dalam dakwah dan penyebaran nilai-nilai keislaman yang diperjuangkan oleh Al-Azhar.

Pada awalnya Majalah Al-Azhar berada di bawah supervisi Masyakhah Al-Azhar secara langsung. Namun, pasca lahirnya lembaga baru di Al-Azhar, yaitu Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Akademi Riset Islam), ia beralih di bawah bimbingan lembaga baru ini. Saat ini, Majalah Al-Azhar di bawah bimbingan direktorat Ats-Tsaqafah Al-Islamiyyah yang secara struktural berada di bawah lembaga Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah.

Pada saat Syekh Abdulhalim Mahmud menjadi sekjen Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah, pada 1969 M, Majalah Al-Azhar bukan hanya menghadirkan artikel di dalam majalah. Ada terobosan baru yang dilakukan oleh beliau untuk memperkaya wawasan masyarakat dan para pelajar dengan menghadirkan kitab dengan tema yang sesuai dengan edisi majalah. Kitab ini dibagikan secara gratis. Di era sekarang ini, ada dua kitab yang dihadirkan sebagai hadiah dalam setiap edisinya.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Pada awalnya, topik-topik yang dituangkan di dalam majalah tersebut meliputi tafsir, sunnah, sirah nabawiyah, usuludin, jawaban atas syubhat, usul fikih, dan fatwa. Bukan hanya itu, bahasan tentang ilmu eksak, sastra, hasil riset, sejarah, biografi dan berita dunia Islam juga ikut disajikan. Bahkan cerita lucu dan anekdot sebagai hiburan juga ikut menghiasi lembaran-lembaran majalah ini.

Pada tahun 80-an, saat Syekh Jadal-Haq Ali Jadal-Haq menjabat sebagai Syekhul-Azhar, Majalah Al-Azhar menghadirkan sebuah inovasi, yaitu rubrik yang mengangkat biografi tokoh-tokoh Al-Azhar yang memiliki pengaruh besar dalam setiap edisinya. Memang Syekhul-Azhar Jadal-Haq dikenal memiliki perhatian lebih terhadap tokoh-tokoh Al-Azhar dan sejarahnya. Sehingga saat itu, banyak bermunculan kitab dengan tema sejarah Al-Azhar. Untuk saat ini, perhatian terhadap hal ini diteruskan oleh Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib.

Pada 1935 M, Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi kembali naik menduduki jabatan Syekhul-Azhar. Nama majalah berganti menjadi Majalah Al-Azhar. Nama ini yang kemudian bertahan sampai hari ini. Pada 1374 H, Majalah Al-Azhar menghadirkan rubrik berbahasa Inggris sebagai bentuk perluasan dakwah agar bisa menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. Pada perkembangan selanjutnya, bahasa Prancis juga ikut dihadirkan.

Saat ini, ada sejumlah rubrik dalam Majalah Al-Azhar yang terhitung baru dan belum pernah ada sebelumnya. Di antara hal baru yang dimaksud adalah rubrik tentang wafidin (para pelajar yang berasal dari luar Mesir) dan rubrik wa’izhat (dai perempuan). Selain itu, di rubrik terakhir biasanya ada berita tentang institusi Al-Azhar secara umum, berita tentang Universitas Al-Azhar, Ma’had Al-Azhar, Masjid Al-Azhar, dan Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah. Berita terakhir, sebelum memasuki bagian bahasa Prancis dan bahasa Inggris, biasanya diisi dengan kabar dunia Islam.

Tokoh-tokoh yang menjadi direktur majalah adalah Syekh Muhammad Khadhir Husain, Syekh Muhammad Farid Wajdi, Syekh Ahmad Hasan Az-Zayyat, Syekh Muhammad ‘Arafah, Syekh Mahmud Khudhairi, Syekh Abdullathif As-Subki, dan Syekh Abdurrahim Fudah. Sementara ulama-ulama yang menjadi kontributor di masa-masa awal adalah Syekh Yusuf Ad-Dijwi, Syekh Ibrahim Al-Jibali, Syekh ‘Isa Mannun, dan sejumlah tokoh yang lain.

Di masa awal terbitnya, Majalah Al-Azhar mendapatkan dukungan secara moral dari Majalah Al-Manar yang digagas oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha. Namun pada perjalanannya, kedua majalah ini mengalami friksi, sehingga tidak jarang antara kedua majalah ini terjadi perdebatan ilmiah yang semakin memperkaya wawasan para pembaca. Jika melihat kitab Al-Manar wa Al-Azhar, friksi antara keduanya terjadi sebab adanya perbedaan manhaj dan sejumlah pandangan dalam menyikapi sejumlah persoalan.

Saat ini, Majalah Al-Azhar telah memasuki tahun ke-99 sejak awal kelahirannya. Sembilan bulan lagi, ia genap berusia 99 tahun versi hijriah dan kemudian memasuki tahun ke-100. Semoga majalah ini terus eksis dan terus memberikan pencerahan dan wawasan segar yang dalam setiap edisinya selalu dihadirkan. Amin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik SEJARAH atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin

Latest