Puisi sebagai karya sastra yang imajinatif, tak melulu membicarakan tentang persoalan patah hati seorang penyair dengan kekasihnya, yang dipenuhi dengan ungkapan hiperbolik tentang senja dan kopi. Puisi membicarakan pula persoalan-persoalan kehidupan yang lebih luas lagi dan mendalam seperti kematian, kemanusiaan, keadilan, dan terutama ketuhanan, sebagaimana dalam puisi-puisi Abdul Hadi WM yang memiliki unsur-unsur religious sangat kuat.
Layaknya yang dilakukan oleh para penyair sufi, Abdul Hadi pun banyak mengangkat tema-tema ketuhanan atau keagamaan dalam puisi-puisinya. Cinta dan kerinduan pada Tuhan, serta pencarian seorang manusia pada hakikat sejati dirinya, meliputi keseluruhan puisinya dalam buku kumpulan puisi Tuhan Kita Begitu Dekat (2012). Akan tetapi, sebelum lebih jauh membaca puisi-puisi Abdul Hadi WM, ada baiknya kita lebih dulu mengetahui apa yang dimaksud dengan karya sastra sufistik, dan apa bedanya dengan karya sastra lainnya yang tak memiliki unsur-unsur religiusitas yang menonjol.
Ringkasnya, sastra sufistik merupakan karya sastra yang di dalamnya berupaya menjelaskan paham-paham, sifat-sifat, dan keyakinan yang diambil dari tradisi tasawuf keislaman, atau bermuatan ajaran kesufian. Karya sufistik ini banyak diperkenalkan oleh para penyair Arab dan Persia sebagai salah satu cara melestarikan nilai-nilai keagamaan atau ajaran-ajaran dalam Al-Quran, di antaranya seperti Ibnu Arabi, Fariduddin Al-Attar, Rumi, Iqbal, Al-Hallaj, Rabiah Al-Adawiyah, dll.

Sementara Kuntowijoyo, dalam bukunya Maklumat Sastra Profetik (2013), menyebut sastra bernuansa sufistik ini sebagai sastra profetik, yakni sastra yang berjiwa transendental dan sufistik karena berangkat dari nilai-nilai ketauhidan. Selain itu, dalam karya sastra profetik, terdapat pula semangat untuk terlibat dalam mengubah sejarah kemanusiaan, atausingkatnya, memiliki semangat kenabian. Karena itu, disebut sebagai profetik.
Dengan demikian dapat disimpulkan secara ringkas bahwa karya sastra sufistik ini berusaha mengungkapkan jenis-jenis penghayatan dan pengalaman kerohanian yang didasarkan dari nilai-nilai keagamaan atau ketauhidan, dalam perjalanan mereka mencari kebenaran atau keadaan-keadaan jiwa yang mereka alami.
Sedangkan karya sastra yang tak mengedepankan unsur-unsur religiusitas yang menonjol cenderung berusaha mengungkapkan penghayatan dan pengalaman penyairnya dalam lingkup keseharian, baik dari hal-hal yang remeh temeh atau hal-hal besar (grand narrative) seperti keadilan sosial-politik, tanpa embel-embel keagamaan. Bahkan karya sastra yang “non-religius” biasanya berusaha menerabas atau memberontak terhadap setiap sistem moral (sosial-budaya atau agama) yang berlaku, yang dianggap konservatif, mengekang, atau irasional.
Dalam konteks inilah puisi-puisi Abdul Hadi WM bisa dikategorikan dalam karya sastra sufistik. Sebab puisi-puisinya itu lebih banyak menonjolkan citraan atau simbol-simbol religius yang merupakan hasil dari penghayatan dan pengalaman kerohanian sang penyair. Untuk membuktikan hal itu, mari kita mulai dengan membaca salah satu puisinya yang berjudul Meditasi (Bagian V):
V
Tidak. Sebaiknya kau datang saja di sore hari di saat aku bercermin.
Tapi jangan lagi mewujud atau menjelma.
Tuhan, siapakah namaMu yang sebenarNya? Dari manakah asalMu?
Apakah kebangsaanMu? Dan apa pula agamaMu?
Manusia begitu ajaib. Mereka pandai benar membuat ratusan teori
tentang Aku dengan susah payah. Tapi siapa Aku yang sebenarnya
Aku sendiri pun tidak pernah tahu siapa sebenarnya Aku, dari mana
Dan sedang menuju ke mana.
(1974)
Pengimajian dalam puisi ini meliputi imaji gerak seperti datang, bercermin, menjelma, membuat. Imaji-imaji gerak itu memungkinkan pembaca untuk terlibat langsung dalam menikmati kegelisahan dan kemuraman yang dirasakan “aku-lirik”. Sementara imaji lihat seperti sore, dan cermin, mempertegas suasana yang hendak dibangun kepada pembaca. Diksi cermin, misalnya, merupakan simbol dari kegelisahan manusia dalam mencari hakikat diri yang sejati. Bayangan dirinya yang terpantul dalam cermin membuat “aku-lirik” bertanya-tanya akan hakikat dari keberadaannya.
Syahdan, Tuhan yang kita ketahui sebagai Dzat sempurna, yang tak pernah kita ketahui wujudnya, asal dan keberadaannya, oleh penyair diumpamakan sebagaimana mahluk hidup seperti manusia, /Tuhan, siapakah namaMu sebenarnya/, /Dari manakah asalMu/, Apakah KebangsaanMu/, Apakah agamaMu/. Serta hakikat diri manusia pun, bagi penyair, tak dapat dipahami hanya dengan bersandar pada ilmu-ilmu formal saja, tak hanya melalui jalan rasional semata. Hal ini hadir dalam larik, /Mereka pandai benar/, /membuat ratusan teori/, /tentang Aku/, /dengan susah payah./, /Tapi siapa Aku/, /yang sebenarnya/, /Aku sendiri pun tidak pernah tahu/. Pencarian dalam sajak di atas, sebenarnya, tak jauh berbeda dengan sajak Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Bulan Ruwah. Saya kutip sebagian fragmen dalam sajak tersebut:
Kita sudah siap dengan daftarnya:
Tuhan, ya robbilalamin!
Adakah kau Islam atau Kristen
Apakah kitabmu: Quran atau Injil
Apakah bangsamu: seorang rus, cina atau jawa?
(Simfoni 1, 1975)
Abdul Hadi tak hanya berbicara tentang kerinduannya akan Tuhan semata. Ia pun berbicara tentang sejarah, tentang suatu kejahatan kemanusiaan pertama, yaitu Qobil dan Habil. Manusia yang selalu hidup dalam dalam kecemasan yang tak berkesudahan akan hakikat sejati dari keberadaannya dan kematian yang selalu membayanginya, diungkapkan dalam sajaknya berjudul Maut dan Waktu:
MAUT DAN WAKTU
Kata maut: Sesungguhnya akulah yang memperdayamu pergi mengembara sampai tak ingat rumah menyusuri gurun-gurun dan lembah ke luar masuk ruang-ruang kosong jagad raya mencari suara merdu Nabi Daud yang kusembunyikan sejak berabad-abad lamanya
Tidak, jawab waktu, akulah yang justru memperdayamu sejak hari pertama Qabil kusuruh membujukmu memberi umpan lezat yang tak pernah menge-nyangkan hingga kau pun tergiur ingin lagi dan ingin lagi sampai gelisah dari zaman ke zaman mencari-cari nyawa Habil yang kau kira fana mengembara ke pelosok-pelosok dunia bagaikan Don Kisot yang malang
(1974)

Dalam puisi yang sekilas seperti puisi naratif itu sarat sekali dengan alusi. Tokoh-tokoh seperti Nabi Daud, Qobil dan Habil, serta Don Kisot, dihadirkan penyair dalam sajak di atas bukan hanya sebagai alegoris atau kiasan saja, tetapi sebagai representasi dari gagasan yang hendak disampaikan penyair tentang pencarian hakikat sejati, ke-fana-an seorang manusia, dan kejahatan pertama anak cucu Adam. Hal ini diperkuat dengan diksi maut dan waktu yang memberi suasana muram dan sangat impresif. Sementara sajaknya yang lain, berjudul Tuhan, Kita Begitu Dekat, memiliki intensitas cukup kuat dengan ketuhanan.
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti api dan panas
Aku panas dalam apimu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dan kapas
Aku kapas dalam kainmu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu.
Memang, jika dibaca sepintas, puisi di atas terkesan sangat sederhana. Hanya menggambarkan kedekatan penyair dengan Tuhannya melalui metafor api dan panas, kain dan kapas, serta angin dan arahnya. Tetapi, dalam puisi di atas, Abdul Hadi rupanya telah berhasil melukiskan tentang kemanunggalan dirinya dengan Tuhannya sebagaimana kemanunggalan api dengan panasnya.
Dalam hal ini, Abdul Hadi ikut meluruskan dan mengkristalkan konsep kemanunggalan mahluk dengan Tuhan, manunggaling kawula-Gusti, yang dalam ilmu tasawuf disebut union mistika (persatuan mistik) atau wahdatul wujud, dengan jiwa alam semesta sebagai keluasan tak bertepi. Dan akhirnya, melalui sajaknya itu, meneguhkan nama Abdul Hadi WM sebagai penyair sufi ternama.
