Skip to content

Kitab Panduan Haji dari Al-Azhar: Bekal Fikih dan Spiritual Sebelum ke Baitullah

Buku panduan haji dari Al-Azhar ini menyatukan fikih manasik dan bekal spiritual, lengkap bagi jemaah yang bersiap menuju Baitullah.

FOTO Insert sampul depan kitab panduan haji dan umrah terbitan Al-Azhar.
FOTO Insert sampul depan kitab panduan haji dan umrah terbitan Al-Azhar.

Haji adalah ibadah yang menjadi dambaan setiap muslim. Meski hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu secara fisik dan finansial, kerinduan untuk menjadi tamu Allah senantiasa tumbuh di hati umat Islam. Seperti dikatakan oleh Syekh Ali Jumuah, ibadah haji merupakan simbol persatuan umat dan momentum untuk menyaksikan kemuliaan spiritual secara kolektif.

Memasuki musim haji tahun ini, lebih dari dua ratus ribu jemaah Indonesia mulai diberangkatkan ke Tanah Suci. Lansia masih menjadi mayoritas. Semoga seluruh jemaah diberi kekuatan dan pulang dengan predikat haji mabrur. Aamiin.

Bagi yang belum berangkat, semoga terus istiqamah dalam berdoa agar diberi rezeki, waktu, dan kesempatan menjadi tamu Allah di Baitullah.

Dalam suasana ini, menarik mencermati satu karya penting dari Al-Azhar yang bisa menjadi bekal ruhani dan praktis bagi calon jemaah. Kitab berjudul Dalīl Al-Ḥajj wa Al-‘Umrah ini diterbitkan oleh Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar pada 2019, di bawah pengawasan almarhum Prof. Dr. Muhammad Husain Al-Mahrashawi (saat menjabat Rektor Universitas Al-Azhar), serta dieditori oleh Dr. Muhammad Al-Jubbah dan Dr. ‘Ali Mahdi.

Buku ini memadukan fikih manasik haji secara sistematis dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Setebal 128 halaman, buku ini menyajikan panduan haji dan umrah, termasuk hukum-hukum kontemporer—seperti kebolehan tawaf ifadhah bagi perempuan haid dalam kondisi mendesak—serta hikmah di balik setiap ritual. Dilengkapi dengan gambar dan peta, buku ini menjadi rujukan praktis sekaligus reflektif bagi calon jemaah.

Salah satu bagian pentingnya ialah pemaparan sepuluh bekal yang harus disiapkan oleh setiap calon jemaah. Bekal-bekal ini menyatukan tuntunan fikih dan kekuatan spiritual sebelum menapaki perjalanan ke Baitullah.

10 Bekal Fikih dan Spiritual Sebelum Haji

  1. Bertaubat dan Mengembalikan Hak Orang Lain
    Taubat nashuha dan menyelesaikan urusan dengan sesama menjadi syarat awal agar perjalanan dimulai dengan hati bersih.
  2. Meluruskan Niat karena Allah
    Niat yang ikhlas untuk mencari ridha Allah menjadi dasar seluruh amalan haji.
  3. Menghadirkan Kerinduan kepada Allah dan Jejak Rasul-Nya
    Haji adalah perjalanan cinta. Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa ia akan menapaki jejak pemimpin para nabi: Sayidina Muhammad SAW, juga para sahabat, dan orang-orang saleh.
  4. Menyiapkan Bekal dari Harta yang Halal dan Thayyib
    Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 267, agar hanya menginfakkan dari yang baik. Keberkahan haji sangat dipengaruhi oleh sumber rezekinya. Bagaimana mungkin seseorang berharap mendapatkan haji mabrur jika bekalnya berasal dari perkara yang haram?
  5. Memilih Teman Perjalanan yang Saleh
    Disunnahkan untuk tidak bepergian sendiri, dan memilih teman yang bisa saling menguatkan dalam ibadah.
     إذا خرج ثلاثة في سفر، فليؤمروا أحدهم
    “Jika kalian bertiga dalam perjalanan, hendaknya salah satunya dijadikan pemimpin.” (HR. Abu Dawud)
  6. Belajar Manasik secara Mendalam
    Ilmu manasik sangat penting agar ibadah tidak hanya sah secara syariat, tapi juga bermakna secara ruhani.
  7. Berdoa dan Berpamitan kepada Keluarga
    Bacaan doa saat keluar rumah, serta menitipkan keluarga kepada Allah, menjadi bagian dari kesadaran spiritual seorang haji.
    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
    Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzalimi atau dizalimi, berbuat jahil atau dijahili."

    Atau:
    بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّه
    Artinya: "Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
  8. Takbir saat Naik, Tasbih saat Turun
    Dalam perjalanan, Rasulullah SAW mencontohkan untuk bertakbir saat naik dan bertasbih saat turun.
    كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا
    Artinya: "Kami dahulu apabila naik ke tempat tinggi bertakbir, dan apabila turun bertasbih."
  9. Menyibukkan Diri dengan Ibadah
    Fokuskan diri dengan zikir, doa, tafakur, dan meninggalkan urusan dunia selama perjalanan ibadah.
  10. Menjaga Wudhu dan Salat
    Disunnahkan menjaga kesucian, salat tepat waktu, dan tetap menunaikan salat sunnah rawatib meski dalam safar.

Ringkasnya, kitab ini bukan sekadar buku panduan teknis. Ia menjadi panduan menyeluruh yang memadukan fikih dan nilai-nilai spiritual, disusun oleh para ulama otoritatif Al-Azhar dengan penyajian yang ringkas, terstruktur, dan mudah dipahami. Sangat layak dijadikan rujukan bagi jemaah dan pembimbing haji.

Fatwa

Kumpulan fatwa pilihan yang disampaikan oleh Imam Akbar dan para ulama Al-Azhar dapa teman-teman baca

di sini

Buku dengan penyajian yang ringkas namun kaya makna, disertai peta dan ilustrasi, membuatnya mudah diakses oleh semua kalangan. Kekuatan utama buku ini adalah pendekatannya yang menyeluruh—tidak hanya mengajarkan “bagaimana”, tetapi juga “mengapa”.

Meski demikian, hampir tidak ditemukan kekurangan berarti dalam buku ini. Satu hal yang mungkin menjadi catatan adalah bahwa kitab ini masih tersedia dalam versi bahasa Arab, sehingga bisa menjadi kendala bagi jemaah yang belum akrab dengan bahasa tersebut. Untuk itu, pendampingan oleh pembimbing ibadah atau penyediaan terjemahan yang dapat diakses luas sangat dianjurkan, agar isi dan pesan spiritual kitab ini dapat terserap secara utuh oleh seluruh kalangan. Bagi yang ingin membaca langsung, kitab ini dapat diunduh melalui tautan berikut:

Haji bukan hanya perjalanan fisik, tapi perjalanan hati dan jiwa menuju ridha Allah. Kitab Dalīl Al-Ḥajj wa Al-‘Umrah ini menghadirkan sepuluh bekal penting agar ibadah haji tak kehilangan ruhnya. Dengan niat yang bersih, ilmu yang cukup, dan persiapan spiritual yang matang, semoga setiap langkah menuju Baitullah menjadi bagian dari perjalanan suci yang tak terlupakan.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik RESENSI atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi

Latest