Kitab ini memiliki judul lengkap Nashiruddin ‘Ala Al-Qaum Al-Kafirin atau As-Saif Al-Azhar ‘Ala Man Kafar, ditulis oleh seorang ulama Morisco, Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari. Di dalamnya termuat banyak informasi tentang kondisi politik dan pemikiran yang berkembang pada awal abad ke-17 M. Selain itu, kitab ini juga menyoroti kondisi sosial umat Islam, terutama muslim Morisco, yang menjadi tema pertama dalam pembahasan.
Informasi tentang kitab ini pertama kali penulis temukan dalam Asanid Al-Mishriyyin karya Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari. Dalam kitab tersebut, saat membahas Syekh Ali Al-Ujhuri, disebutkan bagaimana perkembangan dan eksistensi nalar fikih muslim di awal abad ke-17 M. Syekh Ali Al-Ujhuri juga memiliki hubungan erat dengan penulis kitab Nashiruddin. Sebagian daftar isi kitab ini juga disebutkan oleh Syekh Usamah As-Sayyid Al-Azhari.
Penulis Kitab
Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari bernama lengkap Syihabuddin Ahmad bin Qasim Al-Hajari Al-Andalusi. Ia lahir di dekat Granada pada 976 H (1569 M) dari keluarga Al-Hajar Al-Ahmar, sehingga ia bernisbah Al-Hajari. Ia juga dikenal dengan nama Afukoy Al-Andalusi dan memiliki nama Kristen Diego Bejarano. Dualisme nama ini merupakan hal yang lazim di kalangan muslim Morisco yang terpaksa memeluk agama Kristen secara lahiriah demi keselamatan mereka.
Sejak kecil, Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari telah mempelajari Bahasa Spanyol, namun tanpa sepengetahuan orang tuanya, ia juga mempelajari Bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Pada 996 H (1588 M), ia menetap di Granada dan berguru kepada Syekh Al-Faqih Al-Ukaihil Al-Andalusi.
Di Granada, Ibnu Qasim Al-Hajari berinteraksi dengan banyak pastor besar. Ia bahkan bertindak sebagai penerjemah kitab-kitab tua berbahasa Arab yang ditemukan di reruntuhan gereja tua di kota tersebut. Hal ini membuatnya dikenal luas di kalangan pemuka agama dan pejabat negara.
Pada 1007 H (1598 M), ia berhasil melarikan diri dari Spanyol dan menetap di Maroko, di mana ia diterima dengan baik oleh Sultan Ahmad bin Muhammad Al-Hasani. Pada 1611 M, ia melakukan perjalanan ke Prancis dan Belanda dalam misi diplomasi. Setelah pecahnya masalah muslim Morisco di Maroko, ia hijrah ke Kota Tunis dan akhirnya menetap di sana. Pada 1046 H (1637 M), ia menunaikan ibadah haji dan sempat singgah di Mesir serta berguru kepada Syekh Ali Al-Ujhuri. Syekh Ali Al-Ujhuri juga menjadi penyebab lahirnya kitab yang akan kita bahas.
Diyakini bahwa Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari wafat di Tunis pada 1050 H (1641 M), karena setelah tahun tersebut, tidak ada lagi kabar tentang dirinya.
Isi Kitab Nashiruddin
Kitab ini terdiri dari mukadimah dan 13 bab. Bab pertama membahas pengalaman hidup Ibnu Qasim Al-Hajari sebagai seorang muslim Morisco serta interaksinya dengan para pastor. Ia menggambarkan kondisi sosial, politik, dan pemikiran yang berkembang di Spanyol dan Portugal setelah hilangnya Andalusia dari peta wilayah Islam. Ia juga menjelaskan persaksiannya bagaimana muslim di dua negara tersebut dipaksa untuk masuk Kristen, bahkan mereka yang ketahuan bisa membaca Bahasa Arab atau memiliki buku berbahasa Arab akan dihukum mati. Dibunuh dan dibakar.
Salah satu pengalaman Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari di Spanyol adalah perdebatan intelektualnya dengan para pembesar Kristen. Dalam kitabnya, ia mengungkap berbagai tuduhan yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Islam, yang sering kali didasarkan pada kesalahpahaman atau distorsi sejarah. Namun, dengan ketajaman berpikir dan kecakapannya dalam berargumen, ia mampu membantah syubhat-syubhat tersebut dan memberikan klarifikasi yang kuat.
Bab kedua mengisahkan perjalanan Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari saat keluar dari Spanyol menuju wilayah yang dihuni umat Islam. Ia menggambarkan bagaimana pertolongan Allah membantunya melepaskan diri dari cengkeraman para penjaga perbatasan. Selain itu, ia juga terlibat dalam perdebatan dengan para tokoh agama Kristen di kawasan tersebut. Saat pertama kali tiba di wilayah muslim, ia dikerumuni banyak orang yang meragukan keislamannya. Karena itu, ia diminta mengucapkan syahadat sebagai bukti bahwa ia seorang muslim.
※ Membumikan Akidah Asy'arian ala Abah Cipulus
Bab ketiga menceritakan kedatangannya di Maroko, di mana ia berhasil sampai di Kota Marrakesh dan disambut oleh Sultan Ahmad bin Muhammad Al-Hasani (w. 1012 H). Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kekuatan militer dan kemajuan teknologi umat Islam yang masih lebih unggul dibandingkan Spanyol dan Portugal.
Bab keempat mengisahkan perjalanan Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari ke Prancis sebagai utusan Sultan Zaidan bin Ahmad Al-Hasani. Ia membawa misi menuntut kembali harta Muslim Morisco yang dirampas saat mereka diusir dari Spanyol. Pada 1018 H, Raja Spanyol Philip III mengeluarkan dekrit pengusiran terhadap seluruh Muslim dari negerinya. Banyak di antara mereka menyewa kapal-kapal Prancis untuk menyeberang ke Maroko, namun di tengah laut, mereka justru dijarah oleh para awak kapal dan bajak laut yang bersekongkol dengan mereka.
Meski sebagian muslim Morisco dapat diselamatkan berkat bantuan prajurit Maroko, banyak yang kehilangan seluruh harta benda mereka. Diperkirakan sekitar satu juta muslim diusir dari Spanyol, dengan gelombang terakhir pengusiran terjadi pada 1020 H. Karena itu, Sultan Zaidan mengutus Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari ke Prancis untuk menuntut hak-hak Muslim Morisco yang dirampas.
Di Prancis, ia berinteraksi dengan berbagai pihak, termasuk pejabat dan pemuka agama. Ia terlibat dalam perdebatan dengan sejumlah tokoh dan berhasil membantah serta meluruskan berbagai tuduhan miring terhadap Islam.
Bab kelima membahas perjalanannya ke Paris, di mana ia membandingkan kemegahan kota tersebut dengan Istanbul dan Kairo. Ia juga menjelaskan bagaimana hampir seluruh kerajaan di Eropa memiliki hubungan diplomatik dengan Istanbul, kecuali Spanyol yang sangat memusuhi Islam sehingga Istanbul pun menolak duta yang datang dari negara ini.
Bab keenam hingga kedelapan menguraikan perjalanannya ke berbagai kota di Prancis, termasuk perdebatan-perdebatan yang dilakukannya dengan pemuka agama setempat. Bab kesembilan hingga kesepuluh mendokumentasikan perdebatan Ibnu Qasim Al-Hajari dengan para pemuka Yahudi di Prancis dan Belanda, serta kesannya terhadap Kota Amsterdam yang disebutnya setara dengan Paris. Ia juga menyambangi Den Haag dan Leiden.
Bab keduabelas membahas perdebatannya dengan seorang pendeta di Mesir dan pengalamannya selama berada di sana. Sedangkan bab terakhir mengisahkan banyak hal, salah satunya adalah perjumpaannya dengan Syekh Ali Al-Ujhuri serta latar belakang penulisan kitab ini.
Nilai Historis Kitab Nashiruddin
Salah satu aspek menarik dalam kitab ini adalah penggambaran pengaruh pemikiran Martin Luther dan Kalvin di Eropa. Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari mencatat bahwa Belanda terdiri dari 17 pulau, yang semuanya berada di bawah kekuasaan Spanyol. Namun, tujuh di antaranya kemudian menganut paham Martin Luther yang menafsirkan ulang kitab suci. Paham ini juga dianut oleh banyak orang Inggris dan Prancis.
Hal ini tidak mengherankan, mengingat Spanyol secara teologis berpegang teguh pada ajaran Paus Roma, sementara Belanda berada di bawah penjajahan Spanyol. Menurut penuturan Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari, Belanda bahkan pernah berencana bergabung dengan prajurit Maroko dan muslim Morisco untuk menggulingkan kekuasaan Spanyol, dengan menawarkan armada kapal mereka untuk mendukung misi tersebut.
Selain itu, ada keunikan dalam percakapan antara Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari dan Raja Belanda. Mereka berkomunikasi dalam dua bahasa: Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari berbicara dalam bahasa Spanyol, sementara Raja Belanda menggunakan bahasa Prancis. Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari fasih dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Arab, tetapi kurang cakap dalam menuturkan bahasa Prancis, meskipun memahaminya dengan baik. Sebaliknya, Raja Belanda memahami bahasa Spanyol, namun hanya mampu berbicara dalam bahasa Prancis.
Selain itu, kitab ini juga menggambarkan dunia Islam di era itu, termasuk kondisi Mesir, Hijaz, Turki, serta negeri-negeri di Asia Tengah, Asia Selatan, dan bahkan Asia Tenggara. Salah satu yang disebutnya adalah potret Nusantara, yang mungkin bisa dikupas lebih dalam dalam tulisan mendatang.
Hubungan dengan Ulama Al-Azhar
Salah satu aspek penting yang perlu digarisbawahi dari kitab ini adalah hubungan Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari dengan ulama Al-Azhar. Ia memiliki kedekatan khusus dengan Syekh Ali Al-Ujhuri dan mengikuti pelajarannya di Al-Azhar.
Syekh Ali Al-Ujhuri sendiri adalah guru dari Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi dan Syekh Syamsuddin Al-Babili. Dengan demikian, sangat mungkin bahwa Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari juga berinteraksi dengan keduanya. Hubungan ini membuka jalan bagi pemikirannya untuk menjangkau ruang intelektual yang lebih luas, terutama di lingkungan akademik Islam.
Lebih jauh, keterlibatan Syekh Ibnu Qasim Al-Hajari dalam diskusi dan interaksi dengan ulama Al-Azhar bisa menjadi indikasi awal dari kesadaran umat Islam terhadap berkembangnya orientalisme di dunia Islam. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak hanya menyadari perubahan tatanan dunia, tetapi juga secara aktif merespons dan berusaha memberikan solusi terhadap tantangan zaman.
Semoga ulasan ini dapat menjadi pijakan awal bagi pembaca dalam menyelami kitab yang istimewa ini. Selamat membaca!
