Khutbah I
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Segala puja dan puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT atas segala karunia, rahmat dan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada kita seluruh umat manusia hingga kita masih bisa menjumpai hari-hari permulaan tahun di dalam bulan Muharam yang mulia ini. Selawat dan salam juga marilah senantiasa kita haturkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW, sumber keteladanan dan manusia yang paling mulia di muka bumi ini. Semoga kita semua termasuk digolongkan umat beliau yang kelak akan mendapatkan syafaatnya di hari akhir.
Sebagaimana kita tahu, bulan Muharam yang merupakan bulan pertama dalam kalender Islam yang identik dengan hijrah Rasulullah SAW. Dijadikannya Muharam sebagai permulaan bulan dalam tahun hijriah juga tidak terlepas dari momen perpindahan Nabi Muhammad SAW dari kota Makkah ke Madinah yang kemudian dikenal dengan istilah hijrah. Momen hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad tersebut merupakan perintah Allah SWT sebagai sebuah respon atas penindasan yang dialaminya selama bertahun-tahun di Makkah.
※ Mewaspadai Hijrah Salah Arah
Dalam perpindahan itu, Rasulullah SAW pun sejak awal telah mengingatkan kepada para sahabat-sahabatnya untuk menata diri dan hatinya mengingat faktor pentingnya menata niat. Oleh karenanya dalam hadis berikut, Rasulullah mengingatkan para Sahabat untuk benar-benar menata niat dengan benar saat berhijrah. Hal ini terungkap jelas dalam hadis berikut ini:
Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridaan) Allah SWT dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…
Secara harfiah, hijrah bisa dimaknai ‘berpindah’. Berpindah dalam konteks hijrah tidak bisa dimaknai sebagai perpindahan secara fisik semata. Namun lebih dari itu, hijrah yang dilakukan merupakan perpindahan yang memiliki dimensi spiritual dalam rangka merespon persitiwa besar dalam hidupnya dan dalam rangka membangun masa depan umat Islam yang lebih baik di berbagai sektor kehidupan. Secara historis, beberapa nabi sebelum Rasulullah SAW juga melakukan hijrah dalam perjalanan hidupnya. Misal Nabi Ibrahim yang berhijrah dari Iraq menuju Syam lalu ke Mesir. Begitu juga nabi Musa AS yang juga tinggal di tempat yang baru usai selamat dari pengejaran Firaun. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al-Ankabut:
Artinya: "Maka, Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dia (Ibrahim) pun berkata, "Sesungguhnya aku berhijrah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (Surah Al-Ankabut: 26).
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniSelain untuk merespon penindasan yang dialaminya, Rasulullah berhijrah ke Madinah juga untuk misi pengembangan dakwah dari Makkah ke Madinah. Walhasil, usai Islam mendapat kemenangan, Rasulullah berhasil menyatukan umat Islam di Makkah-Madinah, mempersatukan Muhajirin-Anshar serta bisa menguasai perekonomian di Madinah. Kemenangan perang pasca hijrah dilanjutkan dengan menyebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia. Allah SWT berfirman:
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi dirinya, mereka (malaikat) bertanya, "Bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah)." Mereka (malaikat) bertanya, "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?" Maka, tempat mereka itu (neraka) Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali."(Surah An-Nisa: 97).
Ma’asyiral Mukminin Rahimakumullah…
Tahun baru Islam kerap disebut disebut tahun hijriah atau tahun hijrah. Hijrah dalam Islam bukan sekadar berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain, tapi hijrah adalah simbol transformasi spiritual dan moral seorang hamba menuju derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT. Hijrah bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi menjadi momentum bagi setiap muslim untuk berubah menjadi lebih baik. Dalam berhijrah ini, Rasulullah berwasiat kepada kita dalam kitab Sunan Al-Kubra:
Artinya: "Dan orang yang berhijrah adalah orang yang telah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Imam Al-Bukhari).
Dalam pengertian yang lebih dalam (maknawi), hijrah adalah perubahan dari kondisi buruk menuju kondisi yang lebih baik, dari kesesatan menuju petunjuk, dari maksiat menuju taat, dari lalai menuju dzikir, dari kebodohan menuju ilmu. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 100:
Artinya: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
Ma’asyiral Mukminin Hafizhakumullah…
Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya bukan sebentuk pelarian dan keputusasaan. Itu semua sebagai bentuk ketakwaan dan mengharapkan rida Allah SWT semata. Justru dari hijrah tersebut, umat Islam memiliki kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan dalam berdakwah dan melawan kekufuran yang berujung pada kejayaan Islam.
Setelah masa hijrah, umat Islam yang sebelumnya terpuruk, mengalami kebangkitan secara perlahan-lahan. Kebangkitan tidak hanya ditunjukkan dengan makin banyaknya umat yang memeluk Islam, tetapi juga jaya dalam penguasaan wilayah termasuk penaklukan Makkah. Allah semakin menyempurnakan nikmat-Nya dengan berbondong-bondongnya umat manusia memeluk Islam. Walhasil, hijrah Rasulullah dan para sahabat juga memberikan sebuah kesimpulan bahwa bahwa kemusyrikan, kekufuran, kezaliman sekuat apapun itu akhirnya dapat dikalahkan. Sesuatu yang benar, sekali pun dihalang-halangi, tetap akan bergerak menuju kemenangan. Sebab, Allah telah menjanjikan jalan keluar pada setiap kesulitan. Semoga kita juga mampu untuk selalu berhijrah menuju hal-hal yang lebih baik, sekali pun harus meraihnya dengan berbagai kesulitan yang menghadang.
※ Menelaah Makna Hijrah
Khutbah II
