Skip to content

Khutbah Jumat Menjaga Hati dari Penyakit Hati

Istikamah menjaga hati adalah jalan takwa. Khutbah Jumat ini mengajak kita merawat hati lewat zikir, introspeksi, dan ilmu.

FOTO Sebuah masjid di Turkiye. (Unsplash/Seval Torun)
FOTO Sebuah masjid di Turkiye. (Unsplash/Seval Torun)

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَحَ صُدُوْرَ الْمُوَفَّقِيْنَ بِأَلْطَافِ بِرِّهِ وَآلَائِهِ، وَنُوْرِ بَصَائِرِهِمْ بِمُشَاهَدَةِ حُكْمِ شَرْعِهِ وَبَدِيْعِ صَنْعِهِ وَمُحْكَمِ آيَاتِهِ، وَأَلْهَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا، فَسُبْحَانَهُ مَنْ إِلَهٌ عَظِيْمٌ، وَتَبَارَكَ مَنْ رَبٌ وَاسِعٌ كَرِيْمٌ وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، فِي أَسْمَائِهِ، وَصِفَاتِهِ، وَأَفْعَالِهِ، وَخَيْرَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَشْرَفُ رُسُلِهِ وَخَيْرِ بَرِيَاتِهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ فِي غَدَوَاتِ الدَّهْرِ وَرُوحَاتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم، أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Alhamdulillah puja dan puji syukur marilah senantiasa tiada henti kita panjatkan ke haribaan Allah SWT yang telah memberi kita kenikmatan berupa kesehatan, keimanan dan juga kenikmatan hati yang selalu mudah untuk diajak beribadah. Semoga kita dijauhkan dari segala penyakit hati atau hal-hal yang dapat merusak hati. Selawat dan salam marilah senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhamad SAW, kepada keluarganya, pun beserta para sahabat-sahabatnya. Berselawat adalah perintah Allah SWT yang semoga dengan keistikamahan kita dalam berselawat, menjadikan kita menjadi hamba yang betul-betul dicintai Allah dan Nabi Muhammad, serta kelak di hari kiamat kita digolongkan umat Nabi Muhammad SAW dan termasuk yang mendapatkan syafaat beliau. Amin ya Rabbal Alamin

Dalam kesempatan yang mulia selepas kita merayakan Hari Raya Idul Adha ini, marilah kita juga terus senantiasa berikhtiar meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Terutama untuk saya pribadi, maupun untuk para jamaah sekalian. Sebab kualitas keimanan dan ketakwaan kita memang harus selalu kita perbarui, dipertebal, dan ditingkatkan lagi di tengah kesibukan-kesibukan duniawi yang kita miliki. Jangan sampai segala aktivitas kita lalu berdampak pada menipisnya kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Keimanan dan ketakakwaan adalah pilar kehidupan yang sangat penting serta sebagai modal utama kita hidup di dunia sebelum kita memasuki kehidupan akhirat yang kekal. Kita telah sama-sama meyakini bahwa ada kehidupan selanjutnya selepas kehidupan dunia, yakni kehidupan akhirat yang harus kita persiapakan sejak di dunia.

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…

Salah satu aspek yang dianggap bagian penting dalam agama, yaitu bagaimana melatih hati untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT. Menurut Imam Al-Ghazali, termasuk bagian terpenting dalam tubuh manusia adalah qalbu atau hati. Karakter dan sifat manusia sangat bergantung pada hati manusia. Beliau mengibaratkan hati manusia seperti seorang raja, sementara anggota tubuh yang lain diibaratkan prajurit. Kalau hatinya baik dan bersih, otomatis seluruh anggota tubuhnya juga akan baik. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya akan diarahkan pada kebaikan dan  hal-hal yang disukai oleh Allah SWT. Sebaliknya, kalau hatinya dikuasai oleh setan dan hawa nafsu, bisa dipastikan seluruh anggota tubuhnya akan diarahkan pada hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Hati adalah sumber penggerak kebaikan yang dapat memacu kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Bahkan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas takwa kepada Allah SWT adalah dengan menjaga hati dari hal-hal yang merusak dan menjauhkan diri dari sebab-sebab munculnya penyakit hati. Dalam sebuah Hadis, Rasulullah bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهِيَ القَلْبُ، رواه البخاري ومسلم

Artinya: “Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh anggota badan dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh anggota badan, ketahuilah, ia adalah hati” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Mengingat begitu pentingnya hati, kiranya kita juga harus rutin memperhatikan bagaimana kondisi hati kita, sama seperti halnya kita peduli dengan kondisi kesehatan tubuh kita. Kalau kita rutin cek kesehatan ke dokter, mestinya kita juga harus sering cek kondisi hati kita. Ibarat hati yang berpenyakit, kalau tidak diobati, penyakit itu bisa menjadi parah dan akut. Bahkan, kalau hatinya sudah tertutup, karena saking banyaknya melakukan dosa, cahaya kebenaran akan susah masuk ke dalam hatinya. Inilah yang kemudian diistilahkan dengan “hatinya tertutup”, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:

﴿ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ ﴾ [سورة النحل: ١٠٨]

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Surah Al-Nahl ayat 108)

Semoga kita tidak termasuk orang-orang lalai dan yang dikunci mati hatinya oleh Allah SWT. Agar hal itu tidak sampai terjadi, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar kita terus memperhatikan hati, supaya hati tidak jatuh pada kelalaian. Sebab seperti halnya besi, supaya tidak berkarat ia harus tetap dijaga dan dibersihkan. Kalau karatnya sudah menumpuk, semakin susah untuk membersihkannya. Begitu juga hati, harus senantiasa kita rawat, bersihkan dan kita jaga.

Tasawuf

Kumpulan tulisan bertema tasawuf dapat teman-teman baca

di sini

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Selanjutnya, bagaimana agar hati kita tidak dikunci mati oleh Allah SWT. Jawabannya tidak lain adalah kita harus menghindari apa-apa yang membuat Allah murka kepada kita. Di antaranya adalah dengan tidak melakukan dosa dan senantiasa berupaya untuk bertaubat. Sebab dosa itu ibarat noda hitam, yang mana kalau dibiarkan, maka lama kelamaan akan membuat hati yang tadinya bersih dan putih, menjadi gelap dan kotor. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang harus dilakukan kalau hati sudah kotor? Untuk menjawabnya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ

Artinya: “Bahwasanya hati yang berkarat ini seperti halnya besi jika terkena air. Rasulullah SAW ditanya bagaimana cara membersihkannya? Beliau menjawab, ‘Banyak mengingat mati dan membaca Al-Quran.’” (HR Al-Baihaqi)

Dalam satu bukunya, Imam Al-Ghazali menambahkan, bahwa selain dengan mengingat kematian dan membaca Al-Quran, yakni perbanyaklah beribadah kepada Allah, berselawat, dan berzikir dalam keadaan sunyi, intropeksi diri, supaya kita tahu benar-benar tahu apa yang menjadi kelemahan, kekurangan, dan penyakit-penyakit yang tersembunyi dalam hati kita. Mengetahui kekurangan dan penyakit hati sangat penting. Sebab kalau kita tidak tahu, bagaimana cara kita untuk menyembuhkan penyakit yang kita sendiri tidak tahu apa penyakitnya? Oleh karenanya, Imam Al-Ghazali lantas menambahkan, selain berzikir dan intropeksi diri, hal lain yang bisa dilakukan untuk mengetahui penyakit dan kekurangan hati adalah dengan cara bertanya kepada guru, teman yang saleh, bahkan kepada orang yang membenci kita. Bertanya kepada orang yang membenci adalah salah satu cara yang efektif untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan hati kita. Karena mereka paling tahu, selalu mengungkap, dan mencari kesalahan kita terus-menerus.

Semoga bermanfaat. Mari bersama-sama berupaya sekuat tenaga untuk menjauhkan diri dari segala hal yang dapat merusak hati serta tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar kita diberikan pertolongan dan kemudahan dalam merawat hati dari sikap-sikap yang biasa kita sebut sebagai penyakit hati.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

💡
Baca juga beragam teks khutbah Jumat di KHUTBAH atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein

Latest