Khutbah Pertama
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di pagi yang penuh keberkahan, gema takbir dan tahmid menggema di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan kebesaran dan keagungan Allah SWT. Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat-Nya atas segala nikmat yang tak terhingga, terutama nikmat iman, Islam, dan ihsan.
Alhamdulillah, pada pagi yang cerah ini kita dianugerahi kesempatan untuk berkumpul di masjid yang mulia ini. Semua kita datang dari rumah masing-masing dengan niat yang tulus, semata-mata demi mengharap ridha dan kasih sayang Allah. Kehadiran ini adalah wujud ketaatan, bentuk penghambaan total kepada Allah SWT.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari Raya Idul Adha berkaitan erat dengan ibadah haji. Ia merupakan momentum besar, saat umat Islam di seluruh dunia—terutama para jamaah haji—menampakkan loyalitas kepada Allah dengan memenuhi panggilan-Nya. Semua itu dilakukan semata-mata sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya.
Idul Adha adalah momen agung, ketika jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia mengumandangkan talbiyah:
Sebagaimana firman Allah:
“(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Surah Al-Hajj: 27)
Barangkali di negerinya ia adalah seorang raja, atau seorang presiden, atau tokoh tersohor. Namun saat berhaji, mereka datang dalam keadaan yang sama: sederhana, lusuh, dan berdebu. Mereka lepaskan segala simbol keduniawian. Semua berdiri sederajat, mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan, tanpa wangi-wangian, tanpa gelar dan pangkat. Inilah pelajaran agung tentang kesetaraan dan kerendahan hati.
※ Belajar Sikap Muruah dari Imam Al-Mawardi
Saat berihram, mereka bahkan tidak diperbolehkan memotong kuku. Sekecil apa pun larangan Allah, akan tetap mereka taati. Sebab, yang mereka cari bukan pujian manusia, melainkan keridhaan Allah semata. Karena Allah yang memerintahkan, maka mereka tunduk dan patuh.
Bukankah kain ihram tanpa jahitan mengingatkan kita pada kain kafan—yang menandai kedekatan kita dengan kematian? Bukankah wukuf di Arafah menggambarkan hari ketika kita semua akan dikumpulkan di Padang Mahsyar? Di sana, seluruh manusia berdiri di hadapan Allah, tanpa perbedaan status sosial ataupun kekayaan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Semua suku, bangsa, dan negara berkumpul di satu tempat yang sama, bersatu dalam zikir dan doa, mengagungkan Allah SWT.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Surah Al-Hujurat: 13)
Pada hari Arafah, Allah membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat, seraya berfirman:
“Lihatlah hamba-hamba-Ku! Mereka datang dari berbagai penjuru, dalam keadaan lusuh dan berdebu, mengharap rahmat-Ku dan takut akan azab-Ku. Aku bersaksi bahwa Aku telah mengampuni mereka.”
Itulah hari yang agung, penuh rahmat dan ampunan. Hari pembebasan dari api neraka. Di sana, gema dzikir para jamaah haji menggetarkan langit Arafah:
Sedangkan bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, disunnahkan untuk berpuasa dan memperbanyak amalan kebaikan, khususnya pada hari Tarwiyah dan Arafah—atau lebih luasnya, pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari ini adalah waktu yang paling dicintai oleh Allah.
Inilah hakikat dari sebuah pengorbanan.
Ibadah haji adalah wujud nyata pengorbanan seorang hamba. Mereka yang berhaji rela mengorbankan harta, menahan rindu, melepas kenyamanan, serta melepaskan segala ambisi pribadi. Ego dan keinginan hawa nafsu ditanggalkan, diganti dengan ketundukan total di hadapan Allah. Tiada lagi kehendak selain kehendak-Nya, tiada lagi arah selain menuju keridhaan-Nya.
Inilah bukti nyata dari loyalitas dan ketaatan sepenuh hati kepada Allah SWT.
Hadirin Sidang Idul Adha yang Dimuliakan Allah,
Marilah kita mengambil pelajaran berharga dari teladan agung Nabi Ibrahim ‘alayhis-salām, sang Khalīlullāh — kekasih Allah — dalam hal loyalitas dan ketaatan mutlak kepada perintah-Nya. Salah satu ujian paling berat yang beliau hadapi adalah ketika Allah memerintahkannya untuk menyembelih putra tercinta, Ismail ‘alayhis-salām.
Perlu kita ketahui, Nabi Ibrahim dianugerahi seorang putra di usia senja. Dalam riwayat Taurat disebutkan bahwa saat itu beliau telah berusia delapan puluh enam tahun. Bayangkanlah, seorang anak yang lahir setelah penantian panjang dan kerinduan yang dalam — betapa berharganya ia di mata sang ayah! Anak itu menjadi cahaya mata, penghapus duka, pengikat jiwa, dan penyejuk hati. Sungguh, seberapa besar cinta yang tertanam di hati kedua orang tuanya untuk anak yang demikian?
Ismail tumbuh dalam dekapan kasih. Ketika ia telah mencapai usia sa'i — usia di mana seorang anak mulai menyertai langkah ayahnya, berjalan bersamanya, dan membantu urusan-urusan harian — saat itu Ismail diperkirakan telah memasuki awal masa muda, sekitar tiga belas tahun. Sementara sang ayah, Nabi Ibrahim ‘alayhis-salām, telah mendekati usia seratus tahun.
Sebagaimana kita maklumi, semakin tua seorang ayah, semakin melemah fisiknya, dan semakin besar pula ketergantungannya kepada anak yang menjadi penopang hari tuanya.
Namun, demi meraih cinta Allah, Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra yang sangat dicintainya — anak yang telah lama dinanti sebagai keturunan. Ia tetap taat kepada perintah Allah, meskipun ujian itu begitu berat. Allah menguji Nabi Ibrahim, dan beliau pun lulus dengan gemilang. Ia naik tingkat dalam keimanan dan kepatuhan, membuktikan bahwa cintanya kepada Allah melebihi segalanya.
Sebagaimana tergambar dalam firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dalam surat Ash-Shaffāt ayat 102:
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (Surah Ash-Shaffat: 102)
Dalam sebagian penjelasan para ulama tafsir — di antaranya sebagaimana tercantum dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib karya Al-‘Allāmah Fakhruddīn Ar-Rāzī — disebutkan bahwa kisah penyembelihan Nabi Ismail ‘alayhis-salām berawal dari mimpi Nabi Ibrahim. Dan mimpi para nabi adalah wahyu.
Pada malam tanggal 8 Dzulhijjah — yang kemudian dikenal sebagai Yaum At-Tarwiyah — beliau bermimpi mendengar suara yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini.”
Pada pagi harinya, Nabi Ibrahim merenung dan berpikir sepanjang hari. Apakah mimpi itu benar-benar perintah dari Allah, ataukah hanya bisikan dari setan? Karena beliau masih dalam tahap mempertimbangkan dan menimbang-nimbang maknanya, hari itu kemudian dikenal sebagai Yaumu At-Tarwiyah — hari merenung.
Malam berikutnya, yakni malam tanggal 9 Dzulhijjah, beliau kembali melihat mimpi yang sama. Pada saat itulah beliau semakin yakin bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah. Maka hari itu pun dinamakan Yaumu ‘Arafah — hari kesadaran.
Lalu pada malam ketiga, malam tanggal 10 Dzulhijjah, beliau melihat mimpi itu sekali lagi. Maka pada pagi harinya, beliau pun bertekad bulat untuk melaksanakan perintah Allah menyembelih putranya. Hari itu kemudian dikenal sebagai Yaumu An-Nahr — hari penyembelihan — yang hari ini kita rayakan sebagai Idul Adha.
Nabi Ismail menjawab dengan penuh keikhlasan, menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih putranya, datanglah Malaikat Jibril membawa seekor kambing dari surga, sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran. Maka Ibrahim pun menyembelih kambing tersebut sebagai pengganti putranya. Sejak saat itulah, penyembelihan hewan qurban (udhiyyah) menjadi syariat yang diteladani umat Islam hingga hari ini.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Demikianlah keteladanan agung dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alayhimassalām: ketundukan total kepada perintah Allah, kesabaran yang menggetarkan jiwa, dan keikhlasan luar biasa. Mereka rela berkorban demi ketaatan, merelakan yang dicintai demi keridhaan dan cinta Allah. Maka pantaslah Nabi Ibrahim digelari Khalīlullāh — kekasih Allah — dan menjadi uswatun hasanah, teladan sepanjang zaman.
Wahai orang-orang yang beriman...
Jika Khalīlullah Ibrahim dan putranya Ismail ‘alayhimassalām telah memberikan kepada kita contoh paling agung dalam hal pengorbanan, ketundukan, dan kepatuhan terhadap perintah Allah ‘azza wa jalla, maka sudah sepatutnya kita pun belajar untuk berkorban. Dengan harta yang kita miliki, dengan waktu yang kita punya, dengan setiap langkah dan kata yang keluar dari diri kita — semua itu bisa menjadi bentuk cinta, taat, dan tunduk kepada Allah.
Sebab hidup ini bukan semata soal menikmati segalanya, tetapi tentang keberanian memberi untuk-Nya. Berikan waktumu, meski hanya sejenak. Sisihkan hartamu, meski tak seberapa. Perbaiki ucapanmu, luruskan langkahmu — semua itu bernilai di sisi-Nya.
Karena taat bukan hanya soal niat di dalam hati, tapi harus dibuktikan dalam pengorbanan yang nyata.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hewan-hewan yang disembelih di Mina — pada hari ini, esok, dan sepanjang hari-hari Tasyriq — bahkan yang disembelih di berbagai penjuru dunia, semuanya adalah bentuk ketaatan terhadap panggilan Allah. Ia menjadi simbol syiar Islam dan ekspresi keagamaan yang tulus, ketika darah ditumpahkan semata-mata karena Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Di dalamnya terkandung kebahagiaan dan kemuliaan makna: sebuah ketaatan terhadap perintah ilahi. Bukan karena Allah membutuhkan daging atau darahnya, melainkan sebagai ujian bagi ketaatan hamba-Nya.
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (Surah Al-Hajj: 37)
Wahai hamba-hamba Allah,
Dari kisah agung ini, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa darah manusia adalah sesuatu yang amat mulia dan terjaga. Darah manusia harus dilindungi, sebagaimana kehormatan dan harga diri wajib dijaga.
Islam memuliakan kehormatan, menjunjung tinggi keselamatan jiwa, dan menyeru umat agar menjauhi pertumpahan darah. Setiap tahun, dalam momen mulia ini, kita kembali diingatkan akan kemuliaan tersebut.
Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menyampaikan pesan penting saat menyampaikan Khutbah Wada’:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram (untuk dilanggar) atas kalian, sebagaimana haramnya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini.”
Sebuah pesan yang menegaskan betapa agungnya kemuliaan manusia di sisi Allah.
Ma'asyiral Muslimin,
Di tengah zaman yang dipenuhi konflik, fitnah, dan perpecahan, marilah kita jadikan hari yang mulia ini sebagai momentum untuk kembali kepada nilai-nilai pengorbanan, ketakwaan, dan persaudaraan.
Jadikan Idul Adha ini sebagai ajang untuk mempererat ikatan silaturahmi, memperkuat solidaritas, serta menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama.
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alayhimassalām, dan menjadikannya inspirasi dalam menjalani hidup sebagai hamba yang tunduk kepada perintah Allah.
※ Islam dan Perintah untuk Berpikir Kritis
Khutbah Kedua
