TAWAZUN.ID — Usai memerintahkan agresi mematikan dan penangkapan atas Presiden Nicolas Maduro di Venezuela, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam beberapa kesempatan menyatakan ingin menaklukkan Greenland.
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa kendali AS atas Greenland sangat penting untuk sistem pertahanan udara dan rudal Golden Dome yang sedang direncanakannya. Golden Dome dirancang untung keamanan nasional AS. Donald Trump dalam beberapa kesempatan juga telah berulang kali menyebut soal meningkatnya aktivitas Rusia dan China di Arktik sebagai alasan lain mengapa Amerika Serikat perlu mengambil alih Greenland.
"Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk tujuan keamanan nasional. Ini sangat penting untuk Golden Dome yang sedang kita bangun," tegas Trump yang telah berjanji untuk merebut Arktik itu dari sekutunya, Denmark.
"NATO menjadi jauh lebih tangguh dan efektif dengan Greenland di tangan Amerika Serikat. Apa pun yang kurang dari itu tidak dapat diterima," tandas Trump, sebagaimana tertulis di media sosialnya yang dilansir pada Rabu (14/1/2026).
Terpisah, enam negara anggota NATO justru menyatakan bergabung dengan Denmark dan menyerukan agar kedaulatan Greenland dihormati. Seruan itu disampaikan setelah Donald Trump berkali-kali menegaskan keinginannya menguasai Greenland.
Dalam pernyataan bersama, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (7/1), enam negara anggota NATO, seperti Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, menyatakan bersama Denmark serta menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan, integritas teritorial dan keutuhan perbatasan Greenland.
Greenland yang terletak di kawasan Arktik itu merupakan wilayah otonomi Kerajaan Denmark. Pernyataan bersama itu menguraikan bahwa keamanan Arktik tetap menjadi "prioritas utama bagi Eropa".
"Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut soal Denmark dan Greenland," kata pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol dan Inggris dalam pernyataan bersama tersebut.
Ketujuh negara anggota NATO itu juga menegaskan kembali dalam pernyataannya bahwa banyak sekutu Eropa yang telah meningkatkan kehadiran, aktivitas dan investasi mereka untuk menjaga keamanan wilayah tersebut.
"Oleh karenanya, keamanan Arktik harus dicapai secara kolektif, bersama-sama dengan sekutu-sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip Piagam PBB, yang mencakup kedaulatan, integritas teritorial dan perbatasan yang tidak dapat diganggu gugat. Ini adalah prinsip-prinsip universal, dan kami tidak akan berhenti membela prinsip-prinsip tersebut," tegas para pemimpin negara-negara NATO tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Trump sendiri justru mengatakan bahwa NATO seharusnya memimpin dalam membangun sistem pertahanan rudal berlapis.
"Sebab jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China akan melakukannya, dan itu tidak akan terjadi!" tulis Trump. Donald Trump bahkan telah berulang kali menegaskan akan mengambil alih Arktik yang luas, strategis dan berpenduduk jarang itu. Pernyataan Donald Trump itu terdengar semakin berani dan terus disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Bahkan Donald Trump dalam beberapa hari terakhir telah bersumpah bahwa Amerika Serikat akan merebut Greenland "dengan cara apa pun". Trump mengatakan dia dapat melakukannya "dengan cara yang mudah atau cara yang lebih sulit." Trump bersikeras beberapa jam sebelum pembicaraan, bahwa NATO harus mendukung upaya AS untuk mengambil kendali Greenland, meskipun sekutu utama Eropa semuanya telah berbaris untuk mendukung Denmark.
Dari pihak Greenland, otoritas pemerintah pada hari Kamis (15/1), pun telah kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima pengambilalihan oleh AS dalam "keadaan apa pun." Greenland dan NATO juga mengatakan bahwa mereka sedang berupaya memperkuat pertahanan wilayah Arktik tersebut.
Menarik untuk disimak babak selanjutnya, syahdan selain Greenland, Kolombia, Meksiko, Kuba, hingga Iran adalah negara-negara yang disinyalir menjadi target Donald Trump selanjutnya usai berhasil menginvasi kedaulatan Venezuela secara sukses tanpa adanya “sangsi” dari seluruh negara-negara di dunia.
